Home / Preaching

Friday, 25 December 2020 - 22:36 WIB

APAKAH DAMAI NATAL TELAH HILANG DI NDUGA, INTAN JAYA DAN PUNCAK-PAPUA DENGAN STIGMA SEPARATIS, MAKAR, OPM DAN KKB ?

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala Dr. Socratez  Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala Dr. Socratez Yoman, MA

Refleksi Natal 25 Desember 2020

APAKAH DAMAI NATAL TELAH HILANG DI NDUGA, INTAN JAYA DAN PUNCAK-PAPUA DENGAN STIGMA SEPARATIS, MAKAR, OPM DAN KKB?

(Kalau Papua mau dijadikan Tanah Damai Permanen, maka tuntutannya ialah melalui kuasa Damai Natal 25 Desember 2020, Gereja-gereja di Papua HARUS akhiri mitos-mitos/stigma-stigma milik Negara dan TNI-Polri seperti: Makar, OPM, Separatis dan mitos terbaru milik TNI-Polri, yaitu: Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Gereja-gereja di Papua HARUS lawan dan menentang untuk menghetinkan dan mengakhiri kejahatan dan kekejaman Negara yang merendahkan martabat kemanusiaan umat Tuhan di Tanah Papua.”

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Jawaban dari pertanyaan topik refleksi Natal 25 Desember 2020 ialah Damai Natal tidak hilang di Nduga, Intan Jaya dan Puncak.

Mengapa Damai Natal tidak hilang di Nduga, Intan Jaya dan Puncak?

Jawabannya: Damai Natal itu kuasa Allah yang nyata di bumi. Damai Natal itu kekal. Karena Damai Natal itu Tuhan Yesus Kristus sendiri. Damai Natal itu Allah.
Kuasa Damai Natal tidak dihilangkan dengan moncong senjata TNI-Polri yang berwatak barbar dan kriminal selama ini dari waktu ke waktu di seluruh Tanah Papua, lebih khusus di Nduga, Intan Jaya dan Puncak belakangan ini. Kuasa Damai Natal itu tidak pernah hilang dengan mitos-mitos dan stigma-stigma yang diproduksi dan dipelihara serta digunakan oleh Negara Indonesia dan TNI-POLRI seperti makar, separatis, OPM, dan KKB.

Kuasa Damai Natal itu hidup. Kuasa Damai Natal itu pengharapan dan jaminan kepastian hidup kekal. Kuasa Damai Natal untuk membebaskan dan memerdekaan umat manusia dari belenggu kuasa Iblis dan kuasa dosa. Karena manusia tidak mampu dan tidak sanggup untuk membebaskan diri dari belenggu kuasa Iblis dan kuasa dosa. Kebebasan, kemerdekaan, kedamaian dan pengharapan hidup kekal itu hanya melalui Yesus Kristus dan disebut kuasa Damai Natal. Kuasa Damai Natal perdamaian antara Allah dengan manusia. Kuasa Damai Natal perdamaian antara sesama manusia.

Untuk merefleksikan dan merenungkan Kuasa Damai Natal, Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP) menetapkan Tema dan Sub Tema Natal 2020 sebagai berikut:

Tema: ALLAH MENYERTAI KITA. Matius 1:23.

Sub Tema: Melalui Natal Ini, Kita Tingkatkan Iman dan Ilmu untuk Memahami Realitas Hidup Umat Tuhan di Tanah Papua.

Tema dan Sub Tema Natal 25 Desember 2020 mau membuktikan Allah menyertai semua orang di seluruh dunia dan lebih khusus Allah menyertai umat Tuhan di Nduga, di Intan Jaya, di Puncak dan di seluruh Tanah Papua dari Sorong-Merauke.
Kuasa Damai Natal itu tidak pernah hilang dari orang-orang Nduga, Intan Jaya, Puncak dan seluruh Papua. Kuasa Damai Natal adalah harta bernilai kekal dan milik sebagai warisan ilahi yang tidak diraih dan tidak dirampas oleh TNI-Polri dengan mitos-mitos dan stigma-stima: Makar, OPM, Separatis, KKB. Umat Tuhan di seluruh Papua, di Nduga, di Intan Jaya, di Puncak percaya dan beriman bahwa: ALLAH MENYERTAI KITA atau IMANUEL (Matius 1:23).

Mengapa Kuasa Damai Damai Natal itu tidak hilang di Papua, di Nduga, di Intan Jaya, di Puncak?

Apakah ada bukti-bukti Kuasa Damai Natal menjadi harta yang berharga yang dihidupi dalam hati dan seluruh hidup umat Tuhan di Papua, di Nduga, di Intan Jaya dan di Ilaga?

Jawabannya ialah Pada saat pemimpin orang-orang asli Papua seperti Arnold C.Ap, Theodorus Hiyo Eluay, Yustinus Murip, Kelly Kwalik, Mako Tabuni, Pendeta Elisa Tabuni, Pendeta Gerimin Nigiri, Pdt. Yeremia Zabanani, dan masih banyak orang Papua tewas ditangan TNI-Polri, tetapi orang-orang asli Papua tidak pernah dan belum pernah melakukan perlawan dengan keras dan brutal. Walaupun Negara dan TNI-Polri berwatak babar dan kriminal dan tidak beradab dan tidak manusiawi.

Pembalasan tidak dilakukan oleh seluruh orang Papua, walaupun keluarga dan saudara-saudaranya tewas di tangan TNI-Polri dari waktu ke waktu dengan mitos-mitos yang sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang-orang Papua, tetap sejuk dan damai karena kuasa Damai Natal menjadi pilar dalam hidup orang-orang Papua.

Saya sampaikan salah satu contoh dari belasan dan puluhan bahkan ribuan kasus sedih yang menyentuh hati kita semua. Kita melihat kuasa Damai Natal menyertai seorang ibu dan anak dalam pelarian. Ini kisah seorang ibu hamil yang sangat menyedihkan dan menyentuh hati nurani kita semua akibat Operasi Indonesia Militer di Nduga. ALLAH MENYERTAI IBU DAN ANAK DI HUTAN pelarian dari pengejaran TNI.

“Saya melahirkan anak di tengah hutan pada 4 Desember 2018. Banyak orang berpikir anak saya sudah meninggal. Ternyata anak saya masih bernafas. Anak saya sakit, susah bernafas dan batuk berdahak. Suhu di hutan sangat dingin, jadi waktu kami berjalan lagi, saya merasa anak bayi saya sudah tidak bergerak. Kami pikir dia sudah meninggal. Keluarga sudah menyerah. Ada keluarga minta saya buang anak saya karena dikira dia sudah mati.

Tetapi saya tetap mengasihi dan membawa anak saya. Ya, kalau benar meninggal, saya harus kuburkan anak saya dengan baik walaupun di hutan. Karena saya terus membawa bayi saya, saudara laki-laki saya membuat api dan memanaskan daun pohon, dan daun yang dipanaskan itu dia tempelkan pada seluruh tubuh bayi saya. Setelah saudara laki-laki tempelkan daun yang dipanaskan di api itu, bayi saya bernafas dan minum susu.

Kami ketakutan karena TNI terus menembak ke tempat persembunyian kami. Kami terus berjalan di hutan dan kami mencari gua yang bisa untuk kami bersembunyi. Jadi, saya baru tiba dari Kuyawagi, Kabupaten Lanny Jaya. Kami berada di Kuyawagi sejak awal bulan Desember 2018. Sebelum di Kuyawagi, kami tinggal di hutan tanpa makan makanan yang cukup selama beberapa minggu. Kami sangat susah dan menderita di atas tanah kami sendiri.” (Sumber: Suara Papua, 8 Juni 2019).

Pada kesempatan Perayaan Natal 25 Desember 2020, Gereja-gereja di Papua HARUS melawan dan menghentikan serta menghapuskan mitos-mitos separatis, makar, opm, kkb yang diproduksi, dipelihara, dilestarikan dan digunakan Negara, TNI-Polri yang berwatak Iblis, raja Firaun dan Goliat di atas Tanah Papua.

Kehidupan orang asli Papua sudah tidak normal dan tidak sehat karena perilaku dari penguasa Negara Indonesia, TNI-Polri sejak 1 Mei 1963 sampai saat ini sudah mencapai 57 tahun.

Kuasa Damai Natal 25 Desember 2020 dari mimbar-mimbar Gereja Tuhan di Tanah Papua HARUS menyuarakan kasih, keadilan, kebenaran, kejujuran untuk menyembuhkan dan memulihkan dengan cara jalan menghentikan persoalan rasisme, ketidakadilan, kekerasan Negara, kejahatan kemanusian, pelanggaran berat HAM sebagai LUKA MEMBUSUK dan LUKA BERNANAH DALAM TUBUH BANGSA INDONESIA.

Melihat tragedi kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan Negara, Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno menggambarkan sebagai berikut:

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia. Kita teringat pembunuhan keji terhadap Theys Eluay dalam mobil yang ditawarkan kepadanya unuk pulang dari sebuah resepsi Kopassus.”

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Sementara Pastor Frans Lieshout, OFM sebagai Gembala dan Guru Bagi Papua mengungkapkan:

“..Orang tidak mau mendengar orang Papua, apa yang ada dihati mereka, aspirasi mereka. Aspirasi itu dipadamkan dengan senjata, kita harus mengutuk itu. Pendekatan Indonesia terhadap Papua harus kita kutuk. Orang Papua telah menjadi minoritas di negerinya sendiri. Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.” (Sumber bacaan: Pastor Frans Lieshout. Gembala Dan Guru Bagi Papua. hal.399, 601).

Masalah Papua seperti luka membusuk dan dan bernanah itu sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah tertuang dalam buku Papua Road Map, yaitu 4 akar persoalan sebagai berikut:

(1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Saudara-saudara umat Kristen yang merayakan Natal pada 25 Desember 2020 dimana saja, Kuasa Damai Natal HARUS menyuarakan untuk menyelesaikan 4 akar masalah sebagai tragedi kemanusiaan dan ketidakadilan ini.

Gereja-gereja HARUS melawan dan menghentikan mitos-mitos dan stigma milik Negara dan TNI-Polri yang memperparah luka membusuk dan luka bernanah di tubuh Indonesia. Gereja-gereja di Papua dari mimbar suci dan kudus, jangan membisu, jangan diam, jangan takut, jangan ragu, jangan gentar, jangan berpura-pura, jangan memilih di zona nyaman dengan memanipulasi isi Firman Tuhan untuk menghibur penguasa Negara, TNI-Polri yang membantai umat di Tanah Papua.

Kuasa Damai Natal HARUS menegur dan memperbaiki yang salah dan keliru yang dilakukan Negara dan TNI/Polri selama ini. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” ( 2 Timotius 3:16).

Dengan demikian kita ciptakan Papua Tanah Damai Permanen yang dipelihara dan diberkati Tuhan Yesus Kristus. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Selamat Natal 25 Desember 2020

Ita Wakhu Purom, Jumat, 25 Desember 2020

Dari Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).

Kontak person: 08124888458
____

Share :

Baca Juga

Dr. Yoman

Preaching

KHOTBAH DENGAN TEMA: APAKAH GEREJA DITUTUP KARENA VIRUS CORONA/COVID 19 ?
image

Preaching

Wajah Gereja Baptis: Siapa Itu Gereja Baptis? Apa Itu Gereja Baptis? Refleksi Iman Dalam Rangka 65 Tahun Gereja Baptis Di Tanah Papua 28 Oktober 1965-28 Oktober 2021.

Preaching

MENCARI BERKAT ATAU KUTUK
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

PGBWP

IBADAH NATAL PEMBUKAAN PGBWP PADA 3 DESEMBER 2020 
SEKOLAH SEMINARI BAPTIS PAPUA

Preaching

TEMA: JANGAN TAKUT DAN GENTAR MELAWAN HUKUMAN RASISME

Preaching

Sudah Waktunya Kekuatan Injil Bersuara Mendukung Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat

Preaching

KHOTBAH PEMBERKATAN NIKAH GEREJA BAPTIS ITA WAKHU PUROM
(PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN)

Preaching

PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN MENJADI MATA DAN LIDAH TUHAN & BERHAK MEMBELA NASIB KELUARGA MELANESIA DI WEST PAPUA DALAM FORUM PBB, PIF DAN ACP