Home / Opinion

Friday, 5 August 2022 - 13:27 WIB

Beberapa Orang Asli Papua Hidup Dalam Kesadaran Palsu Dan Kelumpuhan Daya Kritis Untuk Menerobos Jantung Atau Rahasia Dalam Setiap Pergerakan Bangsa Kolonial Modern Indonesia

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala DR. A.G. Socratez Yoman,MA, 16 Juli 2022

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala DR. A.G. Socratez Yoman,MA, 16 Juli 2022

BEBERAPA ORANG ASLI PAPUA HIDUP DALAM KESADARAN PALSU DAN KELUMPUHAN DAYA KRITIS UNTUK MENEROBOS JANTUNG ATAU RAHASIA DALAM SETIAP PERGERAKAN BANGSA KOLONIAL MODERN INDONESIA

Oleh: Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Saya harus menolong para pembaca buku terbaru saya berjudul: “PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI.”

Langsung saja kepada intinya. Ketika Otsus jilid 1 dievaluasi dan dibentuk DOB Boneka Indonesia oleh penguasa kolonial modern firaun Indonesia, hampir 100% OAP terjebak, termasuk saya juga di dalamnya. Kita semua dihanyutkan dan dihancurkan serta dibuat berkeping-keping supaya kita (OAP) sibuk kritik, tolak dan tanggapi evaluasi otsus jilid 1 dan DOB Boneka.

Kesadaran kita dihancurkan. Pikiran sehat kita dicemarkan. Akibatnya, kita tidak bisa tenang untuk melihat apa maksud dan tujuan Otsus jilid 2 dan DOB Boneka. Kita terjebak dalam percaturan politik rasis dan fasis dan militeristik bangsa kolonial Indonesia.

OAP berpikir kita baik-baik saja. OAP berpikir kita hidup normal dan tidak ada masalah. Padahal, OAP sudah hidup dalam ketidakpastian dan kita hidup dalam kedasaran palsu dan dalam kelumpuhan daya kritis dan miskin ide dan pintar berkomentar tanpa menyadari bahwa mereka turut memperkuat penjajahan, perbudakan atas dirinya.

Sayang sekali, beberapa generasi muda hidup dalam krisis identitas. Krisis intelektual. Krisis daya nalar. Krisis jati diri. Krisis daya analisa.

Analogi orang tua berkebun di kampung. Seorang anak laki-laki ikut orang tua pergi berkebun. Anaknya tunggu dibawah pohon dan anak ini menjadi bosan dan terlalu lama. Anak laki-laki marah dan bakar noken ayahnya.

Ayahnya datang dan tanya mengapa kamu bakar noken ayahmu? Anak menjawab: Ayah lama dan saya bosan dan cepat-cepat mau pulang ke rumah.

Ayahnya sampaikan kepada anaknya: “Anak, bapa minta maaf, ayah kerja kebun ini supaya kita tanam ubi dan sayur-sayur supaya kita ada makanan dan hidup tidak kelaparan.”

BACA JUGA  KISAH SINGKAT ROHINGYA DARI BANGLADESH KE RAKHINE AKHIRNYA DIRELOKASI KE PULAU BHASAN CHAR

Hari ini, orang tua buat pagar, kebun dan ada maksud dan tujuan mulia, tapi ada anak-anak tampil dengan krisis daya nalar dan daya kritis yang tidak produktif dan berusaha hancurkan apa yang sedang dibangun orang tua. Itulah bukti watak dan daya nalar yang sudah dilumpuhkan dan hidup dalam pelukan kesadaran palsu yang sudah berhasil dibangun bangsa kolonial modern Indonesia. Kita memelihara dan melestarikan kepalsuan dan kelumpuhan kita.

Anak-anak muda, duduk, renungkan, lihat, amati, dengar apa yang terjadi di sekitar Anda. Bangsamu, bangsa Papua Barat sedang menuju kehancuran. Anda sendiri menjadi mesin perusak dengan daya nalar kerdil dan sempit yang mengandalkan egoisme.

Buku berjudul: “PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI” hadir dalam KETERPECAHAN rakyat dan bangsa Papua Barat supaya generasi muda Papua, laki-laki dan perempuan bersatu.

Buku berjudul: “PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI” ini juga hadir dalam persoalan Papua sudah LUKA MEMBUSUK DAN BERNANAH dalam tubuh bangsa Indonesia supaya generasi muda Papua bangun dan sadar dari kelumpuhan daya nalar dan daya kritis . Buku ini salah satu sumbangan sebagai alat kuratif untuk mengobati LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH dalam perspektif yang berbeda.

Anak-anak muda BANGKIT, PEGANG PENA, TULIS, TULIS, TULIS hal-hal baru yang belum ditulis. Jutaan masalah bertumpuk-tumpuk yang melumpuhkan orang asli Papua selama 61 tahun sejak 1 Desember 1961.

Tidak usah sibuk-sibuk, buang-buang waktu, tenaga dan pikiran membuat kritik apa yang sudah dibaktikan orang tua. Kritik-kritik itu perlu tapi tidak membawa dampak dan pengaruh signifikan atau tidak ada pengaruh apa-apa. Karena orang menulis itu dengan doa, harapan dan tujuan dan juga dengan banyak pertimbangan dengan berbagai macam strategi untuk menolong rakyat dan bangsa Papua yang sedang berada dalam kehancuran.

Lebih terhormat dan bermartabat, generasi muda harus menulis buku untuk melengkapi kekurangan dan kelemahan orang tua. Ada komentar yang menarik dari anak muda Itlay:

BACA JUGA  SAMBUTAN HUT PGBWP KE-64 TANGGAL 28 OKTOBER 1956-2020

“JUDUL LAIN ISI LAIN.”

Ini judul buku yang bagus yang dipilih anak muda Itlay. Perlu ditulis dalam bentuk tulisan untuk menyelaraskan isi dengan judul buku dan dengan demikian kita sempurnakan buku: PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI.

Menurut saya, orang yang membaca buku ini dengan hati sejuk dan pikiran tenang, mereka pasti menemukan dan memperoleh nilai-nilai luhur dan kasus-kasus yang ditaburkan dalam buku: PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI.

Berbagai kesimpulan akan disampaikan: Ada yang frontal dan membabi buta, terkesan buku ini tanpa isi dan pesan seperti anak muda Itlay, tapi ada yang menggunakan standar-standar rasional yang berbasiskan akademik, iman dan teologis.

Kritik itu perlu dan juga penting untuk memperkaya penulis. Tapi, kritik harus rasional, obyektif, berbasis standar-standar akademik, iman, teologis, profesional, proporsional, dan tidak menyerang penulis. Saya respek. Saya apresiasi. Saya terima semua kritik.

Buku berjudul: PEREMPUAN BUKAN BUDAK LAKI-LAKI sebagai PENGANTAR. Mari kita tulis. Anak muda Itlay sudah munculkan idenya: JUDUL LAIN Dan ISI LAIN.

MARI, TULIS…TULIS….TULIS……tentang masa depan rakyat dan bangsamu yang sedang punah di depan matamu ini dan tinggal tersisa sedikit ini.

“KITA, harus berdiri bersama rakyat dan bangsamu untuk melawan musuh kita, yaitu bangsa kolonial modern Indonesia yang menduduki, menjajah, menindas, dan memusnahkan rakyat dan bangsa Papua Barat secara sistematis, terstruktur, terprogram, meluas,masif dan terpadu.”

We still have HOPE.

Selamat membaca dan menikmati tulisan ini. Tuhan memberkati.

Ita Wakhu Purom, 21 Juli 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

NO HP/WA: 08124888458

Share :

Baca Juga

Opinion

SOAL PESAWAT YANG DIBAKAR DI PAGAMPA, KABUPATEN INTAN JAYA, PAPUA
Marinus Yaung

Opinion

ISU RASIALISME DAN ISU HAM PAPUA : DUA INSTRUMEN DIPLOMASI PAPUA MERDEKA
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Jakarta

KETIKA MENYEBUT NAMA PENDETA SOCRATES SOFYAN YOMAN, MAKA INGATAN ORONG HANYA DUA; IA SEORANG PENDETA & JUGA PENULIS ASAL PAPUA YANG UNIK
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Opinion

Topeng-Topeng Rasisme, Kolonialisme, Militerisme, Kapitalisme Penguasa Kolonial Modern Indonesia Di Papua Barat
normshedpapua

Kisah Inspiratif

KISAH SINGKAT ROHINGYA DARI BANGLADESH KE RAKHINE AKHIRNYA DIRELOKASI KE PULAU BHASAN CHAR
pdt-socratez-sofyan-yoman

Opinion

Pemekaran Provinsi Boneka Indonesia Di Tanah Papua Itu Idenya Hendropriyono Dan Tito Karnavian Bukan Ide Orang Asli Papua

Opinion

MEDIA MASSA ADALAH JANTUNG BANGSA ATAU NEGARA DALAM NEGARA
Mr. Theo Hesegem

Opinion

Pemerintah Jakarta Sering Gagal, Melibatkan Orang-Orang Pro Terhadap Papua Merdeka Atau Orang-Orang Pejuang Perdamaian Dan Keadilan