Home / Reality/Fact / WEST PAPUAN COUNCIL OF CHURCHES (WPCC)

Thursday, 28 January 2021 - 14:39 WIB

FORUM KERJA OIKUMENIS GEREJA-GEREJA PAPUA KEKERASAN NEGARA YANG MELUMPUHKAN UMAT TERUS MENINGKAT DI TANAH PAPUA

FORUM KERJA OIKUMENIS GEREJA-GEREJA DI TANAH PAPUA

FORUM KERJA OIKUMENIS GEREJA-GEREJA DI TANAH PAPUA

FORUM KERJA OIKUMENIS GEREJA-GEREJA PAPUA KEKERASAN NEGARA YANG MELUMPUHKAN UMAT TERUS MENINGKAT DI TANAH PAPUA

“Bukalah mulutmu untuk orang yang membisu, untuk hak semua orang yang merana” (Amsal 31:8-9).

Kami sebagai Pimpinan Gereja di Tanah Papua prihatin bahwa kekerasan Negara terus terjadi di Tanah leluhur kami.

Kenyataan ini membuktikan pemerintah dan aparat keamanan Indonesia di Tanah Papua telah gagal melindungi penduduk orang asli Papua. Keprihatinan ini sudah disampaikan oleh umat kami dalam (a) 11 rekomendasi Musyawarah Majelis Rakyat Papua Dan Masyarakat Asli Papua pada 9-10 Juni 2010; (b) Komunike bersama pimpinan Gereja pada 10 Januari 2011: (c) Deklarasi teologi para pemimpin Gereja 26 Januari 2011; dan (d) pesan profetis Pimpinan Gereja Papua kepada Presiden RI, 16 Desember 2011 di Cikeas, Jakarta.

Keprihatinan yang sama juga disampaikan oleh negara- negara anggota PBB (Amerika Serikat, Inggris, Swiss, Kanada, Norwegia, Korea Selatan, Jepang, Prancis, Jerman, Meksiko, Selandia Baru, Australia, Spanyol dan Italia) dalam Sidang HAM PBB (UPR) 23 Mei 2012 di Genewa, Swiss.

Berangkat dari kenyataan itu kami menilai pemerintah dan aparat keamanan Indonesia sebagai bagian dari masalah kekerasan ini yang Negara ciptakan, pelihara, biarkan untuk melegitimasi kekerasan-kekerasan selanjutnya di Tanah Papua dan memanfaakannya untuk memperkuat institusi keamanan.

Perkembangan ini kami nilai sebagai pencerminan dari degenerative Politic) yang ditulis pak Nugroho tahun lalu (The Jakarta Post, 10 Juli 2012). The generative politic menurut pak Nugroho adalah pandangan-pandangan politik dan anggapan-anggapan yang melumpuhkan dan memperburuk kondisi masyarakat Papua yang dilaksanakan mendasari kebijakan publik oleh pemerintah Indonesia di Papua selama 50 tahun.

Berikut ini beberapa kasus kejahatan negara secara sistematis dan terstruktur yang mencerminkan kebijakan degenerative politic yang sudah disebutkan di atas.

(a).Pada 2 Maret 2013 seorang pendeta Yunus Gobay (laki-laki/55) disiksa dan dianiaya dan dibebaskan setelah keluarga korban menyerahkan uang tebusan kepada pihak polisi di Polsek Kota Enarotali, Paniai.

(b).Kasus penembakan di Sinak, Kabupaten Puncak, di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya pada 21 Februari 2013 dan kasus penembakan di Udaugi, perbatasan Kabupaten Deiyai tanggal 31 Januari 2013 yang menewaskan sejumlah warga sipil dan aparat yang menurut kami terjadi oleh karena pembiaran terhadap penjualan senjata secara ilegal.

©Pada 15 Februari 2013, Dago Ronald Gobay (laki-laki/30) ditangkap di Depapre, Kabupaten Jayapura oleh polisi dan dalam proses interogasi disiksa di ruangan kerja Intelkam Polres Jayapura.

BACA JUGA  Topeng-Topeng Rasisme, Kolonialisme, Militerisme, Kapitalisme Penguasa Kolonial Modern Indonesia Di Papua Barat

(d) Upaya pembubaran paksa kegiatan ibadah HUT ke IV Komite Nasional Papua Barat (KNPB) tanggal 19 November 2012 di AULA STAKIN Sentani oleh pemerintah dan aparat keamanan yang dipimpin oleh Kapolres Jayapura AKBP Roycke Harry Langgie dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura, Robert Djoenso D, SH.

(e) Pembunuhan Mako Musa Tabuni Ketua I KNPB tanpa dan diluar prosedur hukum pada 14 Juli 2012 di berdasar Perumnas III Waena.

(f) Pembunuhan Jenderal TPN/OPM Kelly Kwalik oleh polisi Densus 88 dan TNI pada 16 Desember 2009 di kota Timika dan pada tanggal dan bulan yang sama tahun 2012 terjadi pembunuhan Hubertus Mabel oleh polisi Densus 88 di Kurulu, kota Wamena.

(g) Ferdinand Pakage disiksa oleh petugas LP Abepura, Herbert Toam pada 22 September 2008 hingga mengalami cacat (buta) permanen pada mata bagian kanan dalam rumah tahanan LP Abepura.

(h) Penyiksaan dan pembunuhan Yawan Wayeni pada 13 Agustus 2009 oleh Kopolres Serui AKBP Imam Setiawan.

(i) Dua kasus pelanggaran HAM berat Wasior pada tahun 2001 dan Wamena 4 April 2003 kasus pembobolan gudang senjata yang sudah diselidiki oleh KOMNAS HAM tapi Kejaksaan Agung belum menyerahkan ke Pengadilan HAM untuk diputuskan.

Ini hanya beberapa kasus yang menggambarkan kejahatan negara dan aparat keamanan Indonesia secara sistimatis, terstruktur, meluas dan terus-menerus sebagai pencerminan dari kebijakan degenerative politic (melumpuhkan, menghancurkan, memusnahkan, memporak-porandakan, memperburuk, ) yang menurut Nugroho (The Jakarta Post 10 Juli 2012) sudah dilaksana kan oleh Negara Republik Indonesia di Tanah Papua selama 50 tahun sejak 1961.

Menyadari fakta dan pengalaman kehidupan Penduduk Asli Papua yang memprihatikan seperti ini, kami pimpinan Gereja Papua merekomendasikan:

Pertama, Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia segera kembali ke cita-cita awal pendiri negara ini dengan mengungkap dan menghentikan penjualan senjata dan amunisi secara ilegal Keenam, Kapolda Papua, Irjen (Pol) Drs. M. Tito Karnavian, yang sedang terjadi di Tanah Papua.

BACA JUGA  POLITICS OF DIVIDE AND CONQUER AND SEPARATION OF THE INTEGRITY OF INDIGENOUS PAPUANS WITH THE IRRATIONAL & UNREALISTIC CREATION OF NEW PROVINCES IN PAPUA DUE TO THE FACT THAT THE TOTAL POPULATION OF THE PROVINCE OF PAPUA AND WEST PAPUA IS ONLY 4,392,024 PEOPLE

Kedua, Pemerintah Indonesia segera membuka diri terhadap pesan-pesan profetis Gereja, 11 rekomendasi MRP 9-10 Juni 2010 dan seruan anggota PBB dalam Sidang HAM 23 Mei 2012.

Ketiga, Kami menilai Pemerintah Indonesia sangat diskriminatif menyikapi aspirasi rakyat Papua dalam hal dialog damai. Maka kami mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk mengadakan dialog damai yang setara antara Indonesia dan Papua tanpa syarat dan dimediasi pihak ketiga yang netral seperti yang telah dilakukan dengan GAM di Aceh.

Keempat, Pemerintah Indonesia membebaskan seluruh Tahanan Politik di Papua tanpa syarat dan membuka akses untuk kunjungan Pelapor Khusus PBB, wartawan asing, pekerja kemanusiaan untuk berkunjung ke Papua. Dan menghentikan upaya sengaja negara untuk mengkriminalisasi perjuangan politik Penentuan Nasib Sendiri Rakyat dan bangsa Papua.

Kelima, Peristiwa penembakan dan pembunuhan anggota TNI dan warga Sipil yang terjadi di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak dan di Distrik Tingginambut, kabupaten Puncak Jaya pada 21 Februari 2013 harus dilihat secara utuh. Tidak hanya berhubungan dengan Pemilihan Bupati Kabupaten Puncak. Kekerasan ini adalah bagian dari kebijakan Negara untuk pembangunan infrastruktur TNI dan POLRI di Pegunungan dalam rangka memperkuat peresmian Kodim 1714 Puncak Jaya, meningkatkan anggaran belanja aparat keamanan dan mengkriminalisasi perjuangan damai rakyat Papua di tingkat komunitas internasional.

Keamanan Kapolda Papua, Irjen (Pol) Mrs. M. Tito Karnavian MA gagal mengungkap aktor-aktor kekerasan di Tanah Papua dan terkesan membiarkan penjualan senjata secara illegal. Kami mendesak Kapolda Papua menindaklanjuti pernyataan Kapolda Irjen (Pol) Bekto Suprapto pada Desember 2010 untuk mengungkap pemasok senjata illegal di Tanah Papua.

Ketujuh, Kepada seluruh umat Papua dan semua komponen mempelajari undang-undang TNI dan POLRI untuk mengawasi perilaku kejahatan dan kebijakan pemerintah dan aparat keamanan Indonesia di Tanah Papua.

Port Numbay (Jayapura), 06 Maret 2013

Ketua Sinode KINGMI Papua,

Pdt. Dr. Benny Giay

Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua,

Gembala Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Share :

Baca Juga

pdt-socratez-sofyan-yoman

Reality/Fact

“Saya Datang Dari Bangsa Lani Untuk Selamatkan Bangsa Lani.” Warisan Otonomi Dan Kedaulatan Harus Diselamatkan Dan Dipertahankan.
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Reality/Fact

POLITIK ADU-DOMBA & PEMISAHAN KEUTUHAN ORANG ASLI PAPUA DENGAN RENCANA PEMEKARAN PROVINSI BARU DI PAPUA YANG TIDAK RASIONAL DAN REALISTIS KARENA JUMLAH PENDUDUK PROVINSI PAPUA DAN PAPUA BARAT HANYA 4.392.024 JIWA
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Reality/Fact

SEPARATIS SESUNGGUHNYA PARA PENGUASA INDONESIA: JANGAN PAKSA KAMI UNTUK TUNDUK PADA HUKUM INDONESIA KARENA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA SENDIRI MELAWAN DAN MELANGGAR HUKUM DAN UNDANG-UNDANG OTONOMI KHUSUS 2001
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Reality/Fact

PANDANGAN RASISME PARA JENDRAL DAN SIPIL DI INDONESIA: JENDRAL ALI MURTOPO, JENDRAL M.H. HENDROPRIYONO, JENDRAL BINSAR LUHUT PANJAITAN DAN AMBRONCIUS I.M. NABABAN
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Reality/Fact

OTONOMI KHUSUS 2001 SUDAH MATI ATAU GAGAL TOTAL: PERUNDINGAN INDONESIA-ULMWP DIMEDIASI PIHAK KETIGA YANG LEBIH NETRAL ADALAH SOLUSI PERDAMAIAN PERMANEN
Image

Reality/Fact

OTONOMI KHUSUS PAPUA MESIN PEMBUNUH, PEMUSNAH DAN PERUSAK MASA DEPAN ORANG ASLI PAPUA

Reality/Fact

ADA TIGA KELOMPOK GEREJA BAPTIS DI TANAH WEST PAPUA: ADA PEMIMPIN, ADA KANTOR & ADA LOGO BERBEDA
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Papua

Rasisme, Kapitalisme, Militerisme Merupakan Akar Konflik Dan Mesin Kekerasan Kolonialisme Indonesia Di Papua Sejak 1 Mei 1963