Home / Reality/Fact

Saturday, 10 July 2021 - 22:51 WIB

Jenderal Tadius Yogi: Bangsa Indonesia Tidak Punya Tanah Atau Dusun Di Tanah Papua Barat

Foto Saat pengibaran Bendera Bintang Kejora/ Morning Star flag

Foto Saat pengibaran Bendera Bintang Kejora/ Morning Star flag

Fakta

JENDERAL TADIUS YOGI: BANGSA INDONESIA TIDAK PUNYA TANAH ATAU DUSUN DI TANAH PAPUA BARAT

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Pada 8 Juli 2021, ada pertemuan dengan Moderator Dewan Gereja Papua (WPCC), Pdt. Dr. Benny Giay dan juga Ketua Sinode Gereja Kemah Injil di Tanah Papua (GKIP). Pertemuan ini minyikapi perkembangan terbaru yang dialami dan dihadapi umat Tuhan di Tanah ini.

Selesai pertemuan, kami diskusi singkat tentang definisi orang asli Papua  (OAP) yang penulis definisikan, yaitu: “Orang Asli Papua (OAP) adalah orang-orang yang memiliki Tanah atau Dusun yang jelas dan Tanah dan Dusun yang masih terpelihara di kampung-kampung sampai sekarang.”

Dalam meresponi definisi ini, Pendeta Dr. Benny Giay memberikan komentar tentang pernyataan Jenderal Tadius Yogi. Jenderal Yogi pernah menyatakan dan juga mempertanyakan kepada bangsa kolonial modern Indonesia, sebagai berikut:

“Bangsa Indonesia tunjukkan kepada saya Tanah dan Dusun mereka di Tanah ini. Di mana Tanah dan Dusun mereka? Di mana bekas kebun mereka dan tanda membuat honai di Tanah ini? Apakah ada tanda-tanda dan bukti-bukti warisan leluhur orang-orang Indonesia? Di sini terbukti, bangsa Indonesia tidak punya Tanah dan Dusun. Papua ini Tanah dan Dusun milik sah orang asli Papua.”

Pernyataan dan pertanyaan Jenderal Tadius Yogi dan definisi OAP ini sangat paradoks atau bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan para penguasa kolonial modern Indonesia, terutama para serdadu kolonial Indonesia yang menduduki dan menjajah rakyat dan bangsa Papua Barat. Para jenderal kolonial Indonesia dimana-mana dan kapan saja mengancam dan menteror OAP dengan pernyataan-pernyataan, sebagai berikut:

“Sejengkal Tanah pun dari NKRI tidak boleh lepas.”

Pemerintah kolonial modern Indonesia dan TNI-Polri perlu memperlajari sejarah dan nilai-nilai budaya, karena leluhur dan nenek moyang rakyat dan bangsa Melanesia tidak pernah hidup bersama, buat pagar bersama, buat kebun bersama, buat honai bersama, buat perahu bersama, bakar batu bersama,  menyogok sagu bersama, dan duduk makan bersama.

Di sini, di Tanah Papua Barat, Tanah Melanesia ini, ada hidup orang-orang berkulit hitam, rambut keriting ribuan tahun sebelum orang asing Indonesia sebagai bangsa kolonial modern datang menduduki dan menjajah kami. Pendudukan dan penjajahan bangsa kolonial modern Indonesia dimulai 1 Mei 1963.

Bangsa Indonesia merampas, merampok dan mencuri  Tanah dan Dusun OAP dengan moncong senjata. Selain moncong senjata bangsa asing kolonial Indonesia memproduksi mitos, label dan stigma Orang Asli Papua anggota OPM, separatis, makar, kkb (Kk Besar), dan label terbaru teroris. Semua mitos ini menjadi mesin dan senjata penakluk dan pembungkam serta pembunuh Orang Asli Papua yang berdiri atas hak hidup, hak Tanah/Dusun dan hak politik. Mitos dan lebel ini juga alat pembungkam OAP yang berkata dan bersuara benar.

Mitos, label dan stigma ini juga diproduksi untuk menutupi RASISME, Kapitalisme, Militerisme dan Kolonialisme bangsa Indonesia atas rakyat dan bangsa Papua Barat.

Yang jelas dan pasti, bangsa kolonial modern Indonesia tidak punya Tanah dan Dusun di Papua. Karena itu, bangsa kolonial modern Indonesia selalu berlindung di Perjanjian New York 15 Agustus 1962, Pelaksanaan Pepera 1969 yang dimenangkan ABRI dan Resolusi PBB 2504.

Pertanyaannya ialah apakah ada OAP terlibat dalam proses pembuatan dan penandatanganan NYA 15 Agustus 1962? Orang Asli Papua tidak pernah diajak bicara dan dilibatkan dalam proses pembuatan New York Agreement 15 Agustus 1962.

Apakah benar  OAP terlibat dalam proses Pepera 1969 dan setuju tinggal dengan bangsa Indonesia? Fakta sejarah, Pepera 1969 dimenangkan oleh pasukan kolonial modern Indonesia, yaitu ABRI. Tanah Papua dimasukkan atau diintegrasikan ke dalam wilayah Indonesia dengan moncong senjata kolonial Indonesia.

Sintong Panjaitan dalam bukunya: ‘Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando’,  mengakui: “Seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi-operasi Tempur, Teritorial dan Wibawa sebelum dan paska pelaksanaan Pepera dari tahun 1965-1969, maka saya yakin Pepera 1969 di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Pro Papua Merdeka” (lihat: Yoman, Jejak Kekerasan Negara dan Militerisme di Tanah Papua, 2021:151).

ABRI ( kini: TNI) yang RASIS juga  membakar semua buku-buku sejarah yang berhubungan dengan bangsa Papua

BACA JUGA  Dewan Gereja Papua (WPCC) Meminta Kepada PBB Segera Melakukan Intervensi Kemanusiaan Di Papua

“Dalam kerangka ‘mensetarafkan’ rakyat Irian Barat (Tanah Papua), maka pada tanggal 2-3 Mei 1963, setelah UNTEA menyerahkan administrasi pemerintahan kepada Pemerintah RI, Pemerintah mengumpulkan buku dan majalah, pamplet terkait: sejarah etnografi, hukum, dan bahan-bahan cetak lainnya tentang Papua kemudian membakarnya, sambil berpidato dan menyanyikan lagu-lagu nasional Indonesia. Nampak adanya kekuatiran bahwa pikiran dalam cetakan-cetakan tersebut akan menghalangi elit NKRI dalam memaksakan ‘identitas baru yang diimajinasikan’ rezim Indonesia ke dalam benak rakyat Irian Barat kala itu.” (Sumber: Dikutip dari Surat Terbuka Dewan Gereja Papua Kepada Presiden Joko Widodo Selalu Panglima Tertinggi TNI/Polri, 7 Oktober 2020: lihat dalam buku: Jejak Kekerasan Negara Dan Militerisme Di Tanah Papua: Yoman, 2021:177).

Situasi pelanggaran berat HAM sejak 1 Mei 1963 yang menyebabkan pemusnahan etnis OAP sekarang ini bisa membatalkan atau menggagalkan Resolusi PBB 2054 tentang Papua.

Perjanjian New York 15 Agustus 1962, Pepera 1969, Resolusi PBB 2054 dibuat oleh bangsa-bangsa kolonial asing, yaitu Indonesia, Belanda, Amerika dan juga PBB. Di sini, letak titik kelemahan bangsa kolonial Indonesia dan sebaliknya kekuatan rakyat dan bangsa Papua untuk menggugat Indonesia dan untuk membatalkan semua sejarah palsu dan konspirasi politik yang jahat ini.

Ada komentar seorang teman orang Indonesia kepada penulis:

“Buku Jejak Kekerasan Negara
& Militerisme di Papua sangat tajam.  Banyak inspirasi yang membuka wawasan kita yang lebih mendalam tentang akar konflik Papua.  Banyak juga berita dan ilmu sejarah yang dibelokkan selama ini oleh Pemerintah Indonesia. Pak Dr. Yoman tetap semangat dan konsisten dalam mengungkap fakta-fakta. Semakin membaca tulisan pak Dr. Yoman menjadi semakin kelihatan bahwa West Papua punya kekuatan yang besar.” (Komentar Pembaca bernisial BS, 5 Juli 2021).

Inti komentar teman berinisial BS sebagai berikut:

“Banyak juga berita dan ilmu sejarah Papua yang dibelokkan selama ini oleh pemerintah Indonesia.”

Ingat, sadarlah, bangunlah, bersatulah untuk berjuang demi harkat dan martabat kemanusiaan rakyat dan bangsa Papua Barat. Penguasa kolonial firaun moderen Indonesia  yang berwatak teroris, barbar, kriminal dan rasis ini akan runtuh atau hancur hanya dengan satu jalan bermartabat dan damai, yaitu mendidik generasi muda Indonesia dengan MENULIS tentang kekejaman Negara terhadap orang asli Papua sejak 1 Mei 1963 sampai  saat sekarang tahun 2021.

Mari, TULIS, TULIS, TULIS,  dan TULIS, karena mayoritas rakyat Indonesia belum tahu tentang sejarah gelap dan tragedi kemanusiaan di Papua selama lebih dari lima dekade. Biarkan pejabat dan OAP yang lain telah kehilangan martabatnya kemanusiaan dan menjadi sama seperti binatang sapi atau hewan kerbau yang ditusuk moncongnya dan dikendalikan orang lain. Bangsa yang dibangun diatas kebohongan dan kekerasan serta ketidakadilan selalu runtuh.

Sejarah membuktikan, bahwa sebuah kekuasaan pemerintahan yang dibangun atas dasar kejahatan, kekerasan dan kebohongan, ia tidak pernah bertahan lama. Ia selalu runtuh hancur-berantakan dan tinggal dalam kenangan sejarah. Apakah Indonesia akan bernasib begitu ke depan?

Rakyat dan bangsa West Papua berjuang melawan pendudukan dan kolonialisme Indonesia di West Papua bukan untuk kita menang, tetapi kita berjuang untuk mengubah cara berfikir mereka yang salah dan keliru selama ini. Karena mereka tidak berhak atas tanah Melanesia. Mereka memaksakan kami menerima ideologi asing: Pancasila, UUD1945, bendera merah putih, lagu Indonesia raya, Sumpah Pemuda, sejarah dan nama para pahlawan Indonesia yang tidak ada hubungan dengan leluhur dan nenek moyang bangsa Melanesia. Jadi, kita berjuang supaya Indonesia harus sadar bahwa pemaksaan bermotif RASISME itu tidak pernah bertumbuh, berakar dan berbuah dengan baik.

Sejarah Pepera 1969 yang dimenangkan ABRI dengan cara-cara brutal, pelanggaran berat HAM merupakan kejahatan Negara selama 58 tahun sejak tahun 1961, perampasan tanah milik Orang Asli Papua untuk pemukiman transmigrasi, kelapa sawit, pembangunan gedung-gedung besar, pembangunan jalan-jalan, pembangunan basis-basis militer membuktikan Indonesia kolonial moderen yang melakukan pemusnahan etnis Melanesia secara sistematis, terstruktur, terencana dan masif.

BACA JUGA  NOKEN PAPUA BERISI TULANG BELULANG BANGSA PAPUA DI TANGAN IBU NANAIA MAHUTA MENLU NEW ZEALAND

Kita  bekerja dari tempat kita masing-masinh untuk mengubah cara berpikir dan watak bangsa Indonesia. Supaya ke depan bangsa Indonesia dan bangsa West Papua duduk berdampingan sebagai dua bangsa yang merdeka dan berdaulat. Mari, kita mengubah cara berpikir mereka dengan menulis kebenaran-kebenaran, fakta-fakta yang kita lihat, tahu dan miliki.

Kita berjuang dan bekerja bukan untuk menang, tetapi kita berjuang dan bekerja untuk mengubah perilaku dan watak para penguasa kolonial Indonesia yang KELIRU, SALAH, yaitu: RASIS terhadap kami bangsa Melanesia selama 58 tahun sejak tahun 1961. Supaya kita menang bersama untuk hidup setara dan harmonis dalam spirit kemanusiaan sebagai dua bangsa yang merdeka dan berdaulat, Indonesia-West Papua.

Para pembaca, Anda semua, terutama penguasa kolonial modern Indonesia, jangan salah menilai kami. Kami hanya suara mereka yang mau berkata benar, jujur dan adil, demi masa depan anak cucu mereka yang lebih baik, aman dan damai di atas tanah leluhur mereka West Papua. Karena kami punya kewajiban moral dan tanggungjawab iman untuk menjadi penyambung lidah umat Tuhan yang tertindas, terabaikan dan Tanah dan Dusun mereka yang dirampok.

Orang Asli Papua (OAP) jangan gantungkan harapan hidup pada para kolonial. Para penguasa kolonial tidak pernah  menolong untuk pemulihan keluhan-keluhan bangsa yang diduduki dan dijajah. Karena itu, terlalu bodohlah orang-orang tertindas meminta belas kasihan dari kaum penjajah. Lebih bermartabat dan terhormat ialah HARUS ada kesadaran, kebangkitan dan persatuan dari kaum tertindas untuk membangun diri sendiri. Berhentilah mengeluh pada bangsa kolonial, ia selalu hadir sebagai wajah Iblis yang jahat dan kejam serta brutal. Ia gunakan segala macam cara, undang-undang yang dibuatnya pun ia langgar demi mengkekalkan dan melanggengkan penjajahan.  Tapi akhirnya kekusaan kolonial selalu runtuh karena landasannya kekerasan, kejahatan dan kebohongan. Mungkin, penguasa Indonesia masuk dalam kategori ini.

Hewan atau binatang saja tidak berdiam diri ketika ketenangannya diganggu orang, tempat tinggalnya dibongkar dan apalagi orang asli Papua sebagai manusia, kami tidak selamanya berdiam diri ketika harkat dan martabat kemanusiaan kami direndahkan oleh bangsa kolonial Firaun modern Indonesia yang rasis. Penguasa kolonial Indonesia boleh saja merantai atau mengikat kaki dan tangan kita serta menghalangi kebebasan kita, tetapi penguasa kolonial Indonesia tidak mampu merantai dan mengikat serta menghalangi pikiran kita, hati nurani kita, nasionalisme dan ideologi kita. Kami berdiri di atas Tanah leluhur dan pusaka kami. Kami adalah Tuan atas Tanah dan Negeri ini. Tidak ada yang ditakuti. Hanya orang bodohlah yang takut dan tunduk pada kekuasaan palsu bangsa kolonial Indonesia.

Akhir dari tulisan ini, penulis sampaikan, bahwa orang yang paling kaya/terkaya ialah orang yang punya tanah, bukan orang punya uang triliunan. Jagalah tanahmu sebagai pemberian Allah secara cuma-cuma dan warisan berharga dari leluhur. Karena TUHAN sampaikan pesan kepada leluhur kita Adam dan Hawa: ” Peliharalah dan pergunakan tanah ini” (Kejadian 2:15). Tidak ada pesan juallah dan serahkan tanah ini kepada orang asing.

Karena itu, Orang Asli Papua diharapkan JANGAN jual Tanah dan Dusun kepada orang asing. Tanah dan Dusun Papua adalah Mama kita dan hidup kita dan tabungan masa depan anak dan cucu kita.

Doa dan harapan penulis, para pembaca mendapat pencerahan.  Waa…Waa….

Ita Wakhu Purom, Jumat,  9 Juli  2021

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua;
  2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua Barat (WPCC)
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
  4. Anggota Aliansi Baptis Dunia (BWA)

Share :

Baca Juga

Opinion

MEDIA MASSA ADALAH JANTUNG BANGSA ATAU NEGARA DALAM NEGARA
pdt-socratez-sofyan-yoman

Article

Ralat/koreksi: Dalam artikel ini ada ĺKutipan pandangan Theo van den Broek: yang benar dan seharusnya”….Dan, hal ini BUKAN berita baik bagi Papua.”

Reality/Fact

SUDAH WAKTUNYA PERUNDINGAN DAMAI INDONESIA-ULMWP: DEWAN GEREJA PAPUA (WPCC) MEREKOMENDASIKAN DEWAN GEREJA DUNIA (WCC) MENDUKUNG ULMWP UNTUK PERUNDINGAN DAMAI DAN SETARA DENGAN INDONESIA

Reality/Fact

Apakah benar dan masuk akal Amos Ky; Roby Yaam, Lukas Ky,  Yohanes Ky, Paulus Ky (Anak Yohanes Ky), Manfret Ky adalah pembunuh 4 anggota TNI di Maybrat ?
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Reality/Fact

PANDANGAN RASISME PARA JENDRAL DAN SIPIL DI INDONESIA: JENDRAL ALI MURTOPO, JENDRAL M.H. HENDROPRIYONO, JENDRAL BINSAR LUHUT PANJAITAN DAN AMBRONCIUS I.M. NABABAN
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Reality/Fact

Press Release : Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA, Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Papua

NILAI-NILAI LUHUR & ILAHl DALAM PERADABAN HIDUP SUKU LANI
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Reality/Fact

SEPARATIS SESUNGGUHNYA PARA PENGUASA INDONESIA: JANGAN PAKSA KAMI UNTUK TUNDUK PADA HUKUM INDONESIA KARENA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA SENDIRI MELAWAN DAN MELANGGAR HUKUM DAN UNDANG-UNDANG OTONOMI KHUSUS 2001