Home / Reality/Fact

Tuesday, 28 June 2022 - 13:03 WIB

Kejahatan Negara & Pelanggaran Ham Berat Bukan Hanya Kasus Paniai Berdarah 8 Desember 2014

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala DR. A.G. Socratez Yoman,MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Gembala DR. A.G. Socratez Yoman,MA

Realitas Tragedi Kemanusiaan di Papua

KEJAHATAN NEGARA & PELANGGARAN HAM BERAT BUKAN HANYA KASUS PANIAI BERDARAH 8 DESEMBER 2014

“Para penguasa  Indonesia ini telah kehilangan sebagian kemanusiaan mereka dan berperilaku selama ini terlihat seperti separuh manusia dan separuh binatang. Para penguasa ini menjadi manusia-manusia telinga tuli, hati nurani lumpuh dan hati mereka busuk yang menghasilkan kebohongan dan kejahatan. Bangsa Indonesia ini dipimpin oleh penguasa pembohong dan pembunuh orang asli Papua.”

Oleh Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Rakyat dan bangsa Papua, bertemanlah dengan orang yang selalu berkata  BENAR dan JUJUR, bukan dengan orang yang membenarkan Anda atau memuji Anda. Apalagi orang jahat yang selalu merendahkan martabat kemanusiaan kami dengan membunuh dan membinaskan kami di atas TANAH leluhur kami.

“TULISAN ini, saya abadikan dengan bolpen tulang belulang, tintanya air mata dan darah serta penderitaan bangsaku, orang asli Papua di atas TANAH  leluhur kami.”

“Seluruh penderitaan orang asli Papua sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963 sampai sekarang yang ditulis dengan tinta akan terhapus, tapi saya menulis penderitaan bangsaku  ini semua dengan bolpen tulang belulang, tinta air mata dan darah di atas TANAH ini.”

“Kalau saya tidak menjadi bolpen untuk menulis penderitaan bangsaku, saya cukup menjadi alas penghapus di tangan TUHAN untuk menghapus tetesan air mata  di pipi mereka dan darah dari tubuh mereka.”

Negara tidak boleh menggampangkan persoalan kekerasan Negara dan pelanggaran HAM berat yang merupakan tragedi kemanusiaan terlama dan terpanjang di Asia Tenggara yang terjadi sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963.

Kejahatan dan kekejaman penguasa Indonesia yang berlangsung lama secara sistematis, terstruktur, terprogram, terintegrasi, meluas, masif dan kolektif selama 61 tahun sejak 19 Desember 1961, maka telah sedang dan terus berlangsung PEMUSNAHAN etnis orang asli Papua.

Penguasa Indonesia telah membuktikan wajahnya di Papua selama 61 tahun sebagai bangsa kolonial modern yang berwatak rasis, fasis, militeristik, neo kapitalis, ketidakadilan, kriminal, brutal dan barbar.

Para penguasa  Indonesia ini telah kehilangan sebagian kemanusiaan mereka dan berperilaku selama ini terlihat seperti separuh manusia dan separuh binatang. Para penguasa ini menjadi manusia-manusia telinga tuli dan hati nurani lumpuh dan hati mereka busuk yang menghasilkan kebohongan dan kejahatan.
Bangsa Indonesia ini dipimpin oleh penguasa pembohong dan pembunuh orang asli Papua. Mereka anti kebenaran, anti keadilan, anti kejujuran, anti kemanusiaan, anti kesamaan derajat dan anti nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Negara Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Benarlah apa yang dikatakan Arbishop Desmond Tutu (alm.)  dalam bukunya: The Rainbow People of God::The Making of a Peaceful Revolution (1994:124).

BACA JUGA  Jenderal Tadius Yogi: Bangsa Indonesia Tidak Punya Tanah Atau Dusun Di Tanah Papua Barat

“By the way, these are God’s children and they are behaving like animals. They need us to help them recover the humanity they have lost.”

Terjemahannya:  “Omong-omong, ini adalah anak-anak Tuhan dan mereka berperilaku seperti binatang.  Mereka membutuhkan kita untuk membantu mereka memulihkan kemanusiaan yang telah hilang.” (1994:124).

Kembali pada topik, Negara jangan menyelesaikan masalah pelanggaran berat HAM secara parsial dan hanya untuk memenuhi kebutuhan desakan komunitas internasional. Kasus penembakan 5 siswa di Paniai bukan satu-satunya, tapi itu salah satu dari kasus kejahatan yang dilakukan Negara selama ini  yang belum disentuh dan diselesaikan oleh negara.

Jejak-jejak kekerasan dan kejahatan Negara, yaitu empat akar masalah Papua  yang sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI dan sekarang: BRIN). Negara harus bertanggungjawab berbagai bentuk pelanggaran berat HAM dan ketidakadilan di Papua, sebagai berikut:

  1. Biak Berdarah pada 6 Juli 1998;
  2. Abepura (Abe) berdarah pada 7 Desember 2000.
  3. Wasior berdarah pada 13 Juni 2001.
  4. Kasus Theodorus (Theys) Hiyo Eluay dan Aristoteles Masoka pada 10 November 2001.
  5. Wamena berdarah pada 4 April 2003.
  6. Kasus Musa (Mako) Tabuni 14 Juni 2012.
  7. Kasus Paniai berdah pada 8 Desember 2014.
  8. Kasus Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 November 2020.
  9. Bagaimana dan sejauh mana penguasa kolonial Indonesia bertanggungjawab untuk penggembalian 60.000 penduduk orang asli Papua ke kampung halaman mereka dan sampai saat ini masih berada di dearah-daerah pengungsian akibat operasi militer besar-besaran di Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Maybrat dan Pegunungan Bintang.
  10. Dan masih ratusan, bahkan ribuan korban orang asli Papua ditamgan penguasa kolonial modern Indonesia.

Dimana sekarang ini, Kombes Pol. Daud Sihombing,SH dan Brigjen. Polm Drs. Johny Wainal Usman? Orang-orang ini seharusnya dihukum seberat-beratnya atau dihukum seumur hidup, bila perlu dihukum mati karena tindakan mereka menyebabkan Orry Doronggi dan Johni  Karunggu mati ditangan polisi di kamar tahanan polres Jayapura. Dalam kasus ini banyak mahasiswa yang disiksa dan dianiaya dengan cara-cara biadab, kriminal, barbar dan rasis.

Pledoi Pribadi (Pembelaan Pribadi) Komisaris Besar Polisi Drs. Daud Sihombing, SH (Dahulu Kapolres Jayapura) di Makassar, 29 Juli 2005, berjudul: “Jangan Terperdaya Oleh Maksud Jahat Dari Para Pengkhianat Negara.”

Memang, Iblis itu cerdik dan licik, jadi penjahat kemanusiaan ini berlindung dibalik  tameng Negara. Sesungguhnya, Daud Sihombinglah pengkhianat martabat kemanusiaan dan menghina serta melecehkan manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Dimana Letkol Inf Hartomo, Kapten Inf Rionardo, Sertu Asrial, Praka Achmad Zulfahmi, Mayor Inf Donni Hutabarat, Lettu Inf Agus Soeprianto dan Sertu Lorensius Li?

BACA JUGA  Renungan : Kesombongan & Kerendahan Hati ( Baian 1)

7 orang ini dengan tangan mereka memegang Theodorus Hiyo Eluay dan sopirnya Aristoteles Masoka. Apakah 7 orang ini sudah diberikan hukuman setimpal sesuai dengan perbuatan kejahatan kemanusiaan terberat ini? Apakah mereka ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional setelah menculik, membunuh dan menghilangkan nyawa rakyat sipil ini?

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menganggap anggota Kopassus yang dihukum karena melakukan pembunuhan terhadap Ketua Presidium Dewan Papua Theys Hiyo Eluay sebagai pahlawan. Ryamizard meminta anggota Kopassus tersebut dihukum ringan. Hukum mengatakan mereka bersalah. Okelah dia dihukum. Tetapi bagi saya dia pahlawan.” (( Tempo, Interaktif: 23/4/2003).

Aneh tapi nyata, penguasa kolonial modern Indonesia berusaha target Sidang PBB Tahunan  pada bulan September 2022 dengan merekayasa dan berpura-pura menyelesaikan kasus Paniai 8 Desember 2014 dengan tuduhan pelakunya hanya satu anggota TNI. Peristiwa ini terjadi pada waktu siang dan disaksikan oleh orang banyak dan dalam peristiwa tersebut, 17 orang lainnya luka-luka. Dalam laporan KontraS menyebutkan bahwa lima orang yang tewas bernama Otianus Gobai (18), Simon Degei (18), Yulian Yeimo (17), Abia Gobay (17) dan Alfius Youw (17).

Apakah lima siswa yang tewas ini ditembak  hanya oleh satu orang anggota TNI? Siapa Komandan lapangan yang memerintahkan untuk melakukan penembakan yang menyebabkan hilangnya nyawa lima orang siswa? Siapa komandan yang lebih tinggi dari komandan di lapangan? Artinya siapa Dandim, dan siapa Pangdam? Apakah dalam TNI tidak ada garis komando?

Kesimpulan dari tulisan ini, saya mau sampaikan dari perspektif atau dimensi iman, bahwa darah, air mata, tulang belulang dan penderitaan orang-orang asli Papua selamanya mengejar penguasa Indonesia dan anak cucu mereka. Hari ini mereka berfikir hebat dan menang tapi siapa menanamkan kejahatan pasti memetik hasil kejahatan juga.

“Ingat, hukum TABUR dan TUAI itu akan berlangsung. KARMA itu akan terjadi. Apakah kalian tidak puas? Kita lihat apa yang terjadi?” (Muhammad Rivai Darus, SH, Jurubicara Gubernur Papua, 11 April 2022).

“Seluruh penderitaan orang asli Papua sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963 sampai sekarang yang ditulis dengan tinta akan terhapus, tapi saya menulis penderitaan bangsaku  ini semua dengan bolpen tulang belulang, tinta air mata dan darah di atas TANAH ini.”

Doa dan harapan saya, tulis ini menjadi berkat bagi para pembaca.  Selamat membaca.

Ita Wakhu Purom, Selasa,  28 Juni 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Nomor kontak penulis: 08124888458/HP/WA

Share :

Baca Juga

Image

Reality/Fact

OTONOMI KHUSUS PAPUA MESIN PEMBUNUH, PEMUSNAH DAN PERUSAK MASA DEPAN ORANG ASLI PAPUA

Reality/Fact

Usulan Provinsi Tapanuli Yang Diabaikan 42 Tahun Dan 7 Provinsi Boneka Indonesia Di Tanah Papua Tanpa Diusulkan Rakyat Papua

Reality/Fact

Abdurrahman Wahid-Gur Dur (Alm) Manusia Berbudi Luhur Yang Selalu Ada Di Hati Orang Asli Papua

Opinion

MEDIA MASSA ADALAH JANTUNG BANGSA ATAU NEGARA DALAM NEGARA
pdt-socratez-sofyan-yoman

Reality/Fact

Fakta Migrasi, Diskriminasi, Pelanggaran Ham Dan Kejahatan Ekologi Di Lima Kabupaten Kota Di Tanah Papua

Reality/Fact

JUSUF KALLA BAGIAN DARI KEKERASAN DAN KEJAHATAN NEGARA DAN TIDAK LAYAK MENJADI MEDIATOR UNTUK PENYELESAIAN PERSOALAN PAPUA

Reality/Fact

Indonesia Tidak Ada Hak Kedaulatan Atas Tanah, Rakyat & Bangsa Papua
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Reality/Fact

INDONESIA JANGAN SIBUK URUS RENCANA PEMEKARAN PROVINSI-PROVINSI BONEKA YANG TIDAK RASIONAL DAN BUKAN KEBUTUHAN MENDESAK, TETAPI KAPAN INDONESIA MENJAWAB 18 PERTANYAAN PBB TENTANG ISU PELANGGARAN BERAT HAM DI PAPUA?