Home / Fact / Reality

Monday, 28 December 2020 - 09:11 WIB

MARI, BERDIRI BERSAMA GEMBALA DR. SOCRATEZ YOMAN UNTUK BERSUARA DENGAN IMAN DALAM KRISTUS RAJA DAMAI UNTUK MELAWAN DAN MENGHENTIKAN MITOS DAN STIGMA SEPARATIS, MAKAR, OPM, KKB YANG MERENDAHKAN MARTABAT KEMANUSIAAN ORANG ASLI PAPUA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Tantangan Iman dan Kemanusiaan

MARI, BERDIRI BERSAMA GEMBALA DR. SOCRATEZ YOMAN UNTUK BERSUARA DENGAN IMAN DALAM KRISTUS RAJA DAMAI UNTUK MELAWAN DAN MENGHENTIKAN MITOS DAN STIGMA SEPARATIS, MAKAR, OPM, KKB YANG MERENDAHKAN MARTABAT KEMANUSIAAN ORANG ASLI PAPUA


“Terima kasih banyak atas ucapan SELAMAT NATAL 25 DESEMBER 2020 dari semua sahabat. Kita boleh berbeda dan tidak bersaudara dalam iman, tetapi kita harus bersaudara dalam kemanusiaan. Ucapan Selamat Natal 25 Desember 2020 dan 1 Januari 2021 akan menjadi bernilai sempurna dan kedamaian benar-benar hadir secara nyata, kalau semua sahabat baik, kita berdiri dan bersuara bersama-sama melawan dan menolak untuk menghapuskan mitos-mitos atau stigma-stigma yang diproduksi dan digunakan Negara dan TNI-Polri, yaitu separatis, makar, opm dan yang terbaru Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang asli Papua.”


Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA


“Tanah Papua hanya milik bagi orang-orang Beriman, Berilmu dan Berani untuk menyatakan kebenaran demi martabat kemanusiaan, keadilan, kesamaan kerajat dan perdamaian untuk bersama.”

Mitos-mitos dan stigma-stigma ini luka membusuk, buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan. Jangan kita biarkan martabat kita direndahkan terus-menerus. Karena, “Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

Mitos dan stigma Separatis, Makar, OPM dan KKB yang dialamatkan kepada orang asli Papua dari waktu ke waktu adalah bentuk pelanggaran berat HAM, ketidakadilan, dan rasisme yang dilakukan pemerintah Indonesia. Ini kejahatan dan kekejaman Negara dan TNI-Polri yang luar biasa. Mitos-mitos separatis, makar, OPM, KKB adalah surat jalan dan mesin penghancur yang diproduksi, dipelihara, dilestarikan dan digunakan oleh Negara dan TNI-Polri dari waktu ke waktu untuk menindas, menangkap, menyiksa, menculik, memenjarakan, menghancurkan, melemahkan, meminggirkan dan menembak mati orang-orang asli Papua. Perilaku ini merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM sejak 1 Mei 1963. Tindakan Negara dan TNI-Polri ini adalah tragedi kemanusiaan dan ironi kehidupan orang asli Papua.

Perilaku Negara dan TNI-Polri sesuka hati dengan ringan pikiran, ringan kaki dan ringan tangan ini dibiarkan merajalela dan menggurita dari waktu ke waktu. Sebagian pemimpin Gereja dan orang Kristen juga ikut-ikutan menyerang dan melawan oramg asli Papua dengan mendukung dan menguatkan motos-mitos atau stigma-stigma separatis, makar, opm dan kkb.

BACA JUGA  5 Tips for Balancing A Career and Caregiving

Saya ingatkan kepada Penguasa Indonesia dan TNI/Polri setelah Natal 25 Desember 2020 dan 1 Januari 2021, kalau masih saja merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang asli dengan menggunakan mitos-mitos dan stigma-stigma kuno dan yang sudah usang seperti Separatis, makar, OPM dan KKB, berarti penguasa, dan TNI-Polri telah kehilangan sebagian dari kemanusiaan, maka rakyat dan bangsa Papua harus menolong mereka untuk mengembalikan keutuhan martabat kemanusiaan mereka. Mitos-mitos dan stigma-stigma separatis, makar, OPM, KKB sudah lama mencederai dan melukai hati orang asli Papua. Mitos-mitos yang merupakan kejahatan dan melecehkan martabat dan harga diri orang asli Papua dari waktu ke waktu ini harus dilawan dan dihentikan.

Mengapa Gereja-gereja di Papua membisu, diam, takut, dan tidak terbuka melawan dan menghapus mitos-mitos dan stigma-stigma yang diproduksi oleh para penguasa Indonesia dan TNI-Polri yang berwatak barbar dan kriminal seperti perilaku Iblis dan Setan ini?

Mengapa Gereja-gereja di Papua membiarkan penguasa Indonesia dan TNI-Polri membangun pemerintahan dan kekuasaan serta kerajaan Iblis dan Setan dengan merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan orang asli Papua dengan mitos-mitos dan stigma-stigma Separatis, Makar, OPM, dan KKB?

Gereja harus berdiri bersama umat Tuhan dan melawan dan menghentikan kekejaman dan kejahatan Negara dan TNI-Polri. Mitos-mitos dan stigma-stigma separatis, makar, opm dan kkb HARUS dihentikan dari kehidupan orang asli Papua.

Tuhan tidak menjadikan orang asli Papua dengan mitos separatis, makar, opm dan kkb. Firman Allah terang dan jelas tertulis.
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,….” (Kejadian 1:26).

Para penguasa Indonesia, TNI-Polri dan para pemimpin Gereja, mari belajar Firman Tuhan dikutip ini. Tuhan tidak menjadikan orang asli Papua dengan mitos-mitos seperatis, makar, opm dan kkb. Jadi, orang-orang terkutuk yang selalu memproduksi mitos-mitos ini dan merendahkan dan menghina martabat kemanusiaan orang-orang asli Papua.

BACA JUGA  ULMWP LEMBAGA POLITIK RESMI MILIK RAKYAT DAN BANGSA WEST PAPUA BUKAN WADAH KOORDINATIF/DIASPORA

Masalah kemanusiaan, pelanggaran berat HAM, ketidakadilan dan rasisme tidak bisa disembunyikan dengan mitos-mitos dan stigma-stigma kuno dan usang ini. Persoalan Papua sudah jelas dan terang benderang seperti luka membusuk dan dan bernanah itu sudah dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sudah tertuang dalam buku Papua Road Map, yaitu 4 akar persoalan sebagai berikut:

(1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Saudara-saudara umat Kristen yang merayakan Natal pada 25 Desember 2020 dimana saja, Kuasa Damai Natal HARUS menyuarakan untuk menyelesaikan 4 akar masalah sebagai tragedi kemanusiaan dan ketidakadilan ini.

Gereja-gereja HARUS melawan dan menghentikan mitos-mitos dan stigma milik Negara dan TNI-Polri yang memperparah luka membusuk dan luka bernanah di tubuh Indonesia. Gereja-gereja di Papua dari mimbar suci dan kudus, jangan membisu, jangan diam, jangan takut, jangan ragu, jangan gentar, jangan berpura-pura, jangan memilih di zona nyaman dengan memanipulasi isi Firman Tuhan untuk menghibur penguasa Negara, TNI-Polri yang membantai umat di Tanah Papua.

Kuasa Damai Natal HARUS menegur dan memperbaiki yang salah dan keliru yang dilakukan Negara dan TNI/Polri selama ini. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” ( 2 Timotius 3:16).

Dengan demikian kita ciptakan Papua Tanah Damai Permanen yang dipelihara dan diberkati Tuhan Yesus Kristus.
Perdamaian jangka panjang dan permanen untuk semua orang di Tanah Papua tidak tercipta dan terwujud tanpa keadilan dan penghormatan harkat dan martabat kemanusiaan. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Selamat Natal 25 Desember 2020

Ita Wakhu Purom, Minggu, 27 Desember 2020

Dari Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).

Kontak person: 08124888458
____

Share :

Baca Juga

pdt-socratez-sofyan-yoman

Article

MILITARY IS THE ROOT OF VIOLENCE & CRIME OF HUMANITY IN WEST PAPUA SINCE 1 MAY 1963