Home / Preaching / Refleksi Iman

Wednesday, 30 September 2020 - 16:05 WIB

PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN MENJADI MATA DAN LIDAH TUHAN & BERHAK MEMBELA NASIB KELUARGA MELANESIA DI WEST PAPUA DALAM FORUM PBB, PIF DAN ACP

(PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN)

(PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN)

Refleksi Iman

PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN MENJADI MATA DAN LIDAH TUHAN & BERHAK MEMBELA NASIB KELUARGA MELANESIA DI WEST PAPUA DALAM FORUM PBB, PIF DAN ACP

(Sikap Perdana Menteri Vanuatu Mr. Bob Loughman adalah HEROIK dan 100% benar. Tetaplah berdiri dan teruslah bersuara untuk keadilan dan martabat kemanusiaan untuk semua orang. Saya, Dr. Socratez S.Yoman mendukung penuh lahir dan batin suara Anda di forum PBB. Doa dari Saudara-saudaramu yang tertindas menyertai Anda. Dan juga harapan Saudara-saudaramu ada di pundak Anda. Kami bangsa Melanesia bukan bangsa Melayu Indonesia. Saya yakin Anda berdiri di forum PBB mewakili kami dan suara Anda adalah suara kami. Kami sangat bangga memiliki Saudara seperti Anda. Anda di hati kami dan pikiran kami. Seluruh Rakyat Vanuatu ada di hati kami.)

Oleh Dr. Socratez S.Yoman, MA

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing.”

“Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (Franz Magnis).

“Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.” ( Frans Lieshout).

Otto Syamsuddin Ishak menyatakan:

“Dari sisi prinsip diplomasi Indonesia, agaknya tindakan diplomasi yang diperankan oleh Silvany kontradiksi dengan kaidah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, maka hal itu menjadi kontraproduktif. Rupanya merasa heroic, tapi faktualnya adalah konyol dan merugikan Republik Indonesia itu sendiri.”

Silvany Austin Pasaribu, pada 29 September 2020 di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mewakili bangsanya menanggapi pernyataan Pemerintah Vanuatu di PBB, sebagai berikut:

“Anda bukanlah representasi dari orang Papua, dan berhentilah berfantasi untuk menjadi salah satunya”. “Kami menyerukan kepada Pemerintah Vanuatu untuk memenuhi tanggung jawab hak asasi manusia Anda kepada rakyat Anda dan dunia. Jadi sebelum Anda melakukannya, mohon simpan khotbah Anda untuk diri Anda sendiri…”

Sangat disayangkan, diplomat muda Indonesia belum membekali diri dengan baik sebagai diplomat negara besar atau barangkali Menteri Luar Negeri RI dan diplomat senior RI belum mempersiapkan ibu Sylvani dengan baik persoalan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan bangsanya terhadap orang-orang Melanesia di West Papua. Kedangkalan informasi membuat jawabannya membias dan tidak menjawab substansi persoalan yang disampaikan Perdana Menteri Vanuatu, Mr.Bob Loughman yang benar-benar menjadi mata dan lidah TUHAN untuk menyuarakan yang benar.

Sepertinya, Sylvani tidak banyak membaca buku dan tidak mengikuti baik semua peristiwa kejahatan kemanusiaan yang terus terjadi di West Papua yang dilakukan oleh para penguasa Negaranya.

Pernyataan iman dari Prof. Dr. Franz Magnis dan Pastor Frans Lieshout adalah fakta, realutas, kenyataan, bukti tentang apa yang dilakukan penguasa kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…..“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).BACA JUGA  Perihal: Tanggapan Pidato Presiden Republik Indonesia Hari HAM Internasional pada 10 Desember 2020

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

BACA JUGA  TEMA: JANGAN TAKUT DAN GENTAR MELAWAN HUKUMAN RASISME

Sementara Pastor Frans Lieshout melihat bahwa “Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, (2020:601).

Silvany Austin Pasaribu sudah menyatakan diri sebagai generasi penerus dan pemelihara “luka membusuk dan bernanah di tubuh Indonesia.” Artinya Sylvani menjadi generasi pewaris kebohongan, kejahatan, kekejaman, kebrutalan yang ditanam oleh pendahulunya.

Sylvani Pasaribu menjadi pemelihara, pewaris dan penerus “Situasi di Papua buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. “Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia.” “Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.”

Indonesia seharusnya berterima kasih banyak kepada pemerintah Vanuatu, rakyat Vanuatu dan lebih khusus Perdana Menteri Vanuatu Mr. Bob Loughman yang menyampiakan keadilan, kebenaran, dan kesamaan derajat dan martabat kemanusiaan. Indonesia yang berlindung dibalik instrumen-instrumen PBB dan jargon kedaulatan Negara. Instrumen PBB berbicara hak-hak politik dan hak asasi manusia. Apa yang disuarakan Pemerintah Vanuatu adalah nilai-nilai universal yang dibatasi dengan dimensi kedaulatan Negara.

Bandingkan artikel: Otto Syamsuddin Ishak.

Ijinkan penulis untuk mengkopy paste tulisan Otto Syamsuddin Ishak dalam artikelnya: “HEROIK TERHADAP VANUATU” Selasa, 29 September 2020″ dengan cerdas menyadarkan Indonesia, sebagai berikut:

Media mulai menyerang Vanuatu. Warga di negara ini sudah memfitnah Indonesia. Vanuatu adalah negara seujung kuku yang mengusik Indonesia. Negeri ini pernah didera kanibalisme 1970-an. Vanuatu terancam lenyap oleh perubahan iklim. Indonesia memang lagi bersorak ria atas respon diplomat mudanya di PBB terhadap reaksi Vanuatu tentang pelanggaran HAM di Papua. Karena Silvany Austin Pasaribu, diplomat muda Indonesia, dianggap telah memberikan respon yang menohok Vanuatu pada siidang umum PBB.

Sebagaimana yang dikutip sejumlah media di Indonesia, Silvany mengatakan antara lain: “Anda bukanlah representasi dari orang Papua, dan berhentilah berfantasi untuk menjadi salah satunya”.

Indonesia akan membela diri dari segala advokasi separatisme yang disampaikan dengan kedok kepedulian terhadap hak asasi manusia yang artifisial. Prinsip-prinsip Piagam PBB yang jelas tidak dipahami Vanuatu adalah penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas territorial, sebut Silvany.

“Kami menyerukan kepada Pemerintah Vanuatu untuk memenuhi tanggung jawab hak asasi manusia Anda kepada rakyat Anda dan dunia. Jadi sebelum Anda melakukannya, mohon simpan khotbah Anda untuk diri Anda sendiri…”

Itulah semua adalah respon diplomatis Indonesia atas pernyataan Perdana Menteri Vanuatu Bob Loughman, yang mengatakan Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM yang berkesinambungan di Papua hingga saat ini.

Tabloid yang terbit di Papua, dengan mengutip “dokumen CCPR/C/IDN/QPR/2 tentang List of issues prior to submission of the second periodic report of Indonesia,” menyatakan ada 18 kasus HAM di Papua, yang mungkin dalam perspektif orang Papua.

BACA JUGA  APAKAH DAMAI NATAL TELAH HILANG DI NDUGA, INTAN JAYA DAN PUNCAK-PAPUA DENGAN STIGMA SEPARATIS, MAKAR, OPM DAN KKB ?

Memang, dalam periode politik ini terjadi perubahan dalam menghadapi serangan negara lain terkait masalah pelanggaran HAM. Indonesia cenderung menyodorkan diplomatnya yang masih pion atau yunior. Lalu, publikasi domestic dipenuhi dengan kampanye keberhasilan.

Faktualkah keberhasilan itu?

Mungkin betul dalam konteks advokasi politik di dalam negeri, namun belum tentu di dalam konteks solusi dan penghormatan terhadap HAM yang telah menjadi bagian dari konstitusi.

Ada hal yang perlu dijawab:

pertama, dimanapun di dunia ini tidak bisa dianggap masalah pelanggaran HAM adalah ranah politik domestic. Sesuai dengan sifat keuniversalan HAM, maka masalah HAM adalah masalah bersama warga bumi.

Kedua, Komisioner Choirul Anam dari Komnasham RI, baru saja mengatakan sebagaimana diberitakan oleh Detik, Selasa (22/9) bahwa ”Penembakan Pendeta Yeremia pada Sabtu lalu di Intan Jaya, menambah rentetan kekerasan bersenjata yang terjadi di Intan Jaya, Papua. Sepanjang medio 2020 ini, kekerasan bersenjata telah menelan korban sipil , TNI maupun lainnya. Tercatat terdapat 8 korban. Komnas HAM memberikan perhatian terhadap kasus penembakan Pendeta Yeremia tersebut dan akan melakukan pendalaman terhadap fakta-fakta yang terjadi.”

Ketiga, apakah tindakan diplomasi yang heroik itu menyelesaikan kasus yang diduga pelanggaran HAM di Papua? Padahal Komnasham RI baru saja menetapkan kasus Paniai yang terjadi pada 7-8 Desember 2014 sebagai pelanggaran HAM berat. Berkas hasil penyelidikannya sudah diberikan pada pihak Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti ke tahap penyidikan pada 11 Februari 2020. Dan, gejala untuk tidak ditindaklanjuti semakin menguat kalau dipertimbangkan respon pihak Kejagung.

Keempat, apakah tindakan diplomat yang demikian itu memperkuat diplomasi politik Indonesia di kawasan Pasifik? Dalam rivalitas diplomasi antara RI dan ULMWP (United Liberation Moverment for West Papua) pada 3 blok politik-Pasifik, Afrika dan Karibian-Indonesia menghadapi kesulitan, paling tidak di mata orang pergerakan dari Papua.

Nah, kalau model diplomasi Indonesia menyerang Vanuatu, maka dapat diproyeksikan akan mendapat lawan politik dari negara-negara kawasan Pasifik. Karena mereka akan bersolidaritas terhadap Vanuatu. Hal ini, tentu akan menciptakan kondisi yang positif bagi aksi ULMWP.

Dari sisi prinsip diplomasi, agaknya tindakan diplomasi yang diperankan oleh Silvany kontradiksi dengan kaidah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, maka hal itu menjadi kontraproduktif. Rupanya merasa heroic, tapi faktualnya adalah konyol dan merugikan Republik itu sendiri.

Penulis: Ketua Pusat Riset Perdamaian dan Resolusi Konflik (PRPRK), dan sosiolog di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Baca selengkapnya: https://dialeksis.com/kolom/heroik-terhadap-vanuatu/
Copyright © dialeksis.com

____________________

Selamat membaca. Waa…waa..waa..

Agamua, Rabu, 30 September 2020

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Share :

Baca Juga

Injil ke-166 Tahun pada 5 Februari 2021

Preaching

TEMA : DI PAPUA ADA DUA INJIL, YAITU: INJIL MANUSIA & INJIL YESUS KRISTUS
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Preaching

TEMA: SESUNGGUHNYA TNI/POLRI BERWATAK TERORIS DI TANAH PAPUA
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Preaching

HUKUM TABUR DAN TUAI: PENDERITAAN, TETESAN AIR MATA, CUCURAN DARAH SERTA TULANG BELULANG RAKYAT PAPUA TELAH DIUBAH OLEH TUHAN MENJADI API BELERANG DAN BENCANA BESAR BAGI PARA PENGUASA KOLONIAL INDONESIA
pdt-socratez-sofyan-yoman

Preaching

Yesus Kristus Adalah Raja, Guru, Dan Gembala Separatis Sejati

Article

REFLEKSI: HARI INJIL KE-165 DI TANAH PAPUA PADA 5 FEBRUARI 2020
SEKOLAH SEMINARI BAPTIS PAPUA

Preaching

KEBENARAN TIDAK PERLU DIBELA, KEBENARAN MEMBELA DIRINYA SENDIRI

Preaching

MENCARI BERKAT ATAU KUTUK
SEKOLAH SEMINARI BAPTIS PAPUA

Preaching

TEMA: JANGAN TAKUT DAN GENTAR MELAWAN HUKUMAN RASISME