Home / Realitas / Fakta

Friday, 2 October 2020 - 08:44 WIB

PALESTINA DALAM KEDAULATAN ISRAEL DAN WEST PAPUA DALAM KEDAULATAN INDONESIA: VANUATU SABAHAT WEST PAPUA & INDONESIA SAHABAT PALESTINA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Realitas/Fakta

PALESTINA DALAM KEDAULATAN ISRAEL DAN WEST PAPUA DALAM KEDAULATAN INDONESIA: VANUATU SABAHAT WEST PAPUA & INDONESIA SAHABAT PALESTINA

(Komitmen iman Perdana Menteri Pertama Vanuatu, Walter Lini: “Vanuatu tak akan sepenuhnya merdeka sebelum semua negara Melanesia merdeka.”

Moto Negara Vanuatu: ” Long God Yumi Stanap” artinya “Marilah Berdiri Teguh di dalam TUHAN).

Oleh Dr. Socratez S.Yoman,MA

“Rupanya merasa heroic, tapi faktualnya adalah konyol dan merugikan Republik Indonesia itu sendiri.” (Otto Syamsuddin Ishak).

Ada dua bangsa yang sejak dulu berjuang untuk merdeka dan berdaulat penuh dari bangsa kolonial. Rakyat dan bangsa Palestina berjuang untuk merdeka dan berdaulat dari pendudukan dan penjajah bangsa Israel dan rakyat dan bangsa West Papua berjuang untuk merdeka dan berdaulat dari pendudukan dan penjajahan bangsa Indonesia.

Dalam dinamika perjuangan panjang untuk mempertahankan West Papua tetap dalam Indonesia, para diplomat Indonesia masih tertinggal dalam diplomasi di PBB dengan menggunakan narasi-narasi usang atau kuno yaitu diplomasi ofensif, kedaulatan negara, persoalan dalam negeri dan menggampangkan persoalan kemanusiaan yang sudah menjadi luka membusuk dan bernanah dalam tubuh bangsa Indonesia. Sementara kebusukkan luka yang bernanah dalam tubuh bangsa Indonesia sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Sikap kekonyolan Indonesia ini tergambar jelas dalam menjawab pernyataan seorang Perdana Menteri setingkat Presiden di forum PBB, bangsa Indonesia mengirim seorang diplomat muda. Indonesia mempertontonkan sikap yang angkuh, arogan dan sombong terhadap pemerintah Vanuatu, tetapi juga kepada seluruh anggota PBB dan komunitas internasional. Indonesia meremehkan pemerintah Vanuatu berarti Indonesia telah meremehkan Negara-Negara Kepulaun Pasifik (PIF) dan juga Negara-Negara Afrika, Carabia dan Pasifik (ACP) yang bersimpati perjuangan rakyat dan bangsa West Papua melalui wadah politik resmi ULMWP yang didukung penuh pemerintah dan rakyat Vanuatu.

Direktur Amnesty Internasional, Usman Hamid mengkritisi pernyataan diplomat Indonesia di PBB pada COMPAS Live sebagai berikut:

“Paradigma diplomasi kita sudah rendah terlewati zaman. …Tidak menjawab persoalan, itu justru kredibilitas kita ada masalah. Persoalan hak asasi manusia itu bukan persoalan dalam negeri tetapi persoalan global. Seperti kita berbicara persoalan HAM di Myanmar, Suria, Palestina.”

Sementara Otto Syamsuddin Ishak mengkritik diplomasi Indonesia di PBB sebagai berikut.

“Dari sisi prinsip diplomasi Indonesia, agaknya tindakan diplomasi yang diperankan oleh Silvany kontradiksi dengan kaidah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak, maka hal itu menjadi kontraproduktif. Rupanya merasa heroic, tapi faktualnya adalah konyol dan merugikan Republik Indonesia itu sendiri.”

Apa maksud Otto Syamsuddin Ishak dibalik kata-kata “…seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,…?

Otto Syamsuddin Ishak meningatkan para penguasa Indonesia dan diplomatnya bahwa Indonesia sedang mereduksi simpati komunitas internasional sehingga kehilangan sahabat-sahabat yang menjadi pendukung dan sebaliknya pemerintah Vanuatu sedang membangun simpati terutama solidaritas martabat kemanusiaan dan kesetaraan. Otto melihat lebih luas bahwa gelombang dukungan perjuangan keadilan, martabat kemanusiaan dan kesamaan derajat yang diperjuangkan Vanuatu bersama dengan ULMWP mendapat simpati dan dukungan sscara langsung maupun tidak langsung.

Dalam Alkitab juga menceritakan tentang raja Goliat yang sombong dan angkuh dan raja Daud yang kecil. Perkelaihan raja Goliat dengan raja Daud dikisahkan dengan baik. Goliat yang simbong dan angkuh dikalahkan oleh raja Daud.

Si kecil, raja Daud menghadapi raja Goliat dan mengatakan kepadanya:

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau dalam tanganku dan akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu, hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan segenap jemaah tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan TUHANlah pertempuran dan ia pun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” (1 Samuel 17:45-47).

Pesan dari kutipan ini jelas, bahwa raja Goliat disimbolkan penguasa Indonesia yang angkuh dan sombong yang meremehkan dan merendahkan pemerintah Vanuatu yang hadir di medan tempur PBB untuk menyampaikan kejahatan dan pelanggaran berat HAM yang dilakukan Indonesia selama 57 tahun sejak 1 Mei 1963 yang sudah menjadi luka membusuk dan bernanah dalam tubuh bangsa Indonesia.

Kita semua akan menyaksikan drama pertempuran raja Goliat yang angkuh dan sombong dan raja Daud kecil di forum-forum terhormat di MSG, PIF, ACP dan PBB. Apakah si Goliat yang angkuh dan sombong akan keluar sebagai pemenang dengan segala macam kebohongannya atau si Daud kecil akan keluar sebagai pemenang bersama United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dalam pertempuran yang tidak seimbang ini? We wait and See and look forward.

Satu hukum yang jelas dan pasti: Bangsa yang dibangun di atas tirani, kekerasan, kebohongan, keangkuhan, ketidakadilan, merendahkan martabat kemanusiaan, meremehkan bangsa lain, bangsa itu selalu HANCUR BERKEPING-KEPING dan ia tinggal dalam kenangan catatan sejarah.

Ditambah lagi dengan hukum tidak berfungsi semestinya, korupsi dijantung-jantung kekuasaan sipil dan militer, kesenjangan orang kaya dan miskin dan meningkatnya kemiskinan rakyat, tanah rakyat dirampas penguasa yang mendukung para pemodal/pengusaha, rakyat kehilangan sumber pendapatan, kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya menurun dan jumlah rakyat tidak berpendidikan meningkat tajam, dan rakyat yang penggangguran meningkat tajam, ini semua tanda-tanda hancurnya sebuah bangsa.

Ada lain lagi, yaitu jika kelompok radikal dan intoleran dipelihara atau dibiarkan, maka benih-benih atau bibit-bibit kekerasan dan kejahatan dipelihara. Sepertinya harimau atau singa kecil dipelihara dan pada suatu saat akan menerkam dan membunuh majikan atau tuannya.

Seperti Indonesia melawan Vanuatu yang mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa West Papua, Anggota Parlemen Israel, Yoel Razvozov, kepada (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa) di forum parlemen internasional di Moskow, Razvozov mengatakan:

“Kalian [Indonesia dan Qatar] orang munafik. Tidak ada namanya teror yang baik. Hamas mencoba membunuh warga Israel dan kalian–bahkan dalam konferensi ini–malah membela mereka. Ada ribuan anak-anak dan penduduk di perbatasan Gaza yang tidak mengetahui realita dengan ketakutan di benak mereka. Militer Israel tidak akan melakukan aksi militer.”

Perilaku negara terhadap orang asli Papua yang tidak adil, tidak beradab dan tidak manusiawi ini bertentangan dengan martabat kemanusiaan kita dan juga tidak sesuai dengan era perkembangan moderen yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan.

“Era modern yang ditandai dengan semangat kesetaraan dan demokratisasi meneguhkan bahwa sesama manusia adalah sama dan karena itu segala bentuk perbudakan, penjajahan, penindasan dan sejenisnya seperti yang belaku dalam budaya feodalisme dan kolonialisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan harus ditinggalkan.”
( Pramoedya Ananta Toer, Muhammad Muhibbddin: 2019: hal. 127).

Dalam upaya untuk memulihkan luka membusuk dan bernanah dalam tubuh bangsa Indonesia, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sudah menyampaikan hasil diagnosa penyakitnya. LIPI sudah membantu penguasa Indonesia dengan penemuan penyakit yang menyebabkan luka membusuk dan bernanah itu.

Jadi, Indonesia sebaiknya menyelesaikan luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia yaitu 4 pokok akar masalah Papua. Terlihat bahwa Pemerintah dan TNI-Polri bekerja keras dengan berbagai bentuk untuk menghilangkan 4 akar persoalan Papua yang dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008). Empat akar persoalan sebagai berikut:

1) Sejarah dan status politik integrasi Papua ke Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Solusi untuk mengobati luka membusuk dan bernanah di tubuh bangsa Indonesia ialah Pemerintah Republik Indonesia dan ULMWP duduk satu meja untuk perundingan damai tanpa syarat yang dimediasi pihak ketiga yang netral untuk menemukan solusi damai yang permanen.

Selamat membaca. Waa…waa..waa..

Agamua, Kamis, 2 Oktober 2020

Penulis:
1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
3. Anggota Baptist World Alliance (BWA).
__________

Share :

Baca Juga

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Realitas / Fakta

The incident which took place on August 16, 2021, when Rev. Dr. Benny Giay, Chair of the Kingmi Synod in Papua and also Moderator of the Papuan Church Council (WPCC
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

RAKYAT DAN BANGSA WEST PAPUA HIDUP DALAM PENJARA MITOS-MITOS & IDEOLOGI KOLONIAL BANGSA INDONESIA

Realitas / Fakta

SKENARIO KONFLIK ORIZONTAL TELAH GAGAL DI AIRPORT WAMENA, MINGGU, 15 NOVEMBER 2020
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

SEJARAH RAKYAT DAN BANGSA WEST PAPUA DIHANCURKAN & DIMUSNAHKAN OLEH BANGSA KOLONIAL MODERN INDONESIA SEJAK 1 MEI 1963

Article

TETESAN DARAH, CUCURAN AIR MATA, DAN PENDERITAAN RAKYAT NDUGA BELUM BERAKHIR
Image

Realitas / Fakta

Oleh Dr. Socratez S.Yoman, MA PAPUA ADALAH LUKA MEMBUSUK DAN BERNANAH DALAM TUBUH BANGSA INDONESIA