Home / Article

Friday, 19 March 2021 - 07:34 WIB

PENGUASA INDONESIA & TNI MEMBAKAR BUKU-BUKU SEJARAH PAPUA SEJAK 1 MEI 1963 DAN MEMAKSA BANGSA PAPUA MENERIMA MAJAPAHIT, SRIWIJAYA, PANCASILA, 17 AGUSTUS 1945, MERAH PUTIH ADALAH SEJARAH KOLONIAL ASING INDONESIA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Artikel

PENGUASA INDONESIA & TNI MEMBAKAR BUKU-BUKU SEJARAH PAPUA SEJAK 1 MEI 1963 DAN MEMAKSA BANGSA PAPUA MENERIMA MAJAPAHIT, SRIWIJAYA, PANCASILA, 17 AGUSTUS 1945, MERAH PUTIH ADALAH SEJARAH KOLONIAL ASING INDONESIA

Oleh Gembala Dr. Socratez Yoman,MA

Watak kolonial yang sebenarnya ialah biasa mereka menghancurkan beberapa pilar penting bangsa yang diduduki dan dijajah, yaitu hancurkan pendidikan, hancurkan kebudayaan, hancurkan bahasa, hancurkan ekonomi, hancurkan kesehatan dan hancurkan sejarah dan dokumen-dokumen penting. Para kolonial memang tidak pernah hargai sejarah bangsa yang diduduki dan dijajah. Ini wajah yang dimiliki bangsa kolonial moderen firaun Indonesia.

Pastor Frans Lieshout, OFM memberitahukan kepada kita semua perilaku kejam dan barbar penguasa Indonesia dan TNI membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting tentang Papua.

“Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Kejahatan kolonial modern Indonesia terhadap orang asli Papua yang paling kejam, biadab, brutal, dan barbar serta primitif ialah membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting yang dimiliki penduduk asli Papua. Kekejaman dan kebiadaban penguasa kolonial Indonesia disemangati dari rasisme, fasisme dan militerisme. Kekejaman dan kolonialisme primitif ini wajar karena Indonesia adalah pemerintahan berkultur militer.

Menurut Amiruddin al Rahab: “Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan punggungnya pemerintahan militer.” (Sumber: Heboh Papua Perang Rahasia, Trauma Dan Separatisme, 2010: hal. 42).

Dewan Gereja Papua (WPCC) pada 5 Juli 2020 menyatakan: “Begitu mendapat tempat di Papua (setelah UNTEA tanggal 1 Mei 1963), para elit Indonesia yang menampakkan kekuatannya dan membakar semua buku, dokumen-dokumen, jurnal dan semua tulisan tentang Sejarah, etnografi, penduduk, pemerintahan; semua dibakar di depan orang banyak di halaman Kantor DPRP sekarang di Jayapura” (Lihat, Acub Zainal dalam memoarnya: I Love the Army).

BACA JUGA  Konflik Tragedi Kemanusiaan Indonesia-Papua Adalah Persoalan Berdimensi Internasional Bukan Persoalan Indonesia

“Pembakaran besar-besaran tentang semua buku-buku teks dari sekolah, sejarah dan semua simbol-simbol nasionalisme Papua di Taman Imbi yang dilakukan ABRI (sekarang:TNI) dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Mrs.Rusilah Sardjono.”

Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

” Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.”

“Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Fakta lain ialah pada bulan April 1963, Adolof Henesby Kepala Sekolah salah satu Sekolah Kristen di Jayapura ditangkap oleh pasukan tentara Indonesia. Sekolahnya digebrek dan cari simbol-simbol nasional Papua, bendera-bendera, buku-buku, kartu-kartu, sesuatu yang berhubungan dengan budaya orang-orang Papua diambil. Adolof Henesby dibawa ke asrama tentara Indonesia dan diinterogasi tentang mengapa dia masih memelihara dan menimpan lambang-lambang Papua” (TAPOL, Buletin No.53, September 1982).

BACA JUGA  Membongkar Akar Konflik Papua-Indonesia Yang Menyebabkan Luka Membusuk, Luka Bernanah, Kanker Atau Tumor Ganas Di Dalam Tubuh Bangsa Indonesia

Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno mengeluarkan Surat Larangan pada Mei Nomor 8 Tahun 1963.

“Melarang/menghalangi atas bangkitnya cabang-cabang Partai Baru di Irian Barat. Di daerah Irian Barat dilarang kegiatan politik dalam bentuk rapat umum, demonstrasi-demonstrasi, percetakan, publikasi, pengumuman-pengumulan, penyebaran, perdagangan atau artikel, pemeran umum, gambaran-gambaran atau foto-foto tanpa ijin pertama dari gubernur atau pejabat resmi yang ditunjuk oleh Presiden.”

Rakyat dan bangsa West Papua tidak tahu apa itu Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya? Rakyat dan bangsa West Papua juga tidak tahu Pancasila, 17 Agustus 1945 dan bendera merah putih. Rakyat dan bangsa West Papua tidak tahu nama-nama pahlawan seperti Diponegoro dan lain-lain.

Pertanyaan yang dipertanyakan dalam tulisan ini ialah mengapa sejarah Belanda di West Papua dan Sejarah bangsa West Papua tidak pernah diajarkan dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi di West Papua?

Rakyat dan bangsa West Papua sejak 1 Mei 1963 sampai tahun 2021 ini hidup dan hafal serta belajar sejarah bangsa kolonial Indonesia.

Mari, kita sadar, bangkit, bersatu dan lawan kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan, rasisme, fasisme, dan militerisme Indonesia yang berlangsung secara konstitusional, sistematis, terstruktur, masif dan kolektif di Tanah West Papua dan berdampak sangat buruk terhadap keberlangsungan kehidupan rakyat dan bangsa West Papua.

Doa dan harapan penulis, artikel pendek ini menjadi berkat. Waa…Waa…Wa….

Ita Wakhu Purom, 18 Maret 2021

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Amggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Share :

Baca Juga

Article

PEPERA 1969 DI PAPUA DIMENANGKAN ABRI (SEKARANG; TNI-POLRI)
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

OTONOMI KHUSUS NOMOR 21 TAHUN 2001 BUKAN UNDANG-UNDANG KEUANGAN: PEMERINTAH INDONESIA JANGAN MENGUKUR MARTABAT ORANG ASLI PAPUA DENGAN NILAI UANG DAN JANGAN MENGABURKAN AKAR PERSOALAN PAPUA DENGAN PROMOSI NILAI UANG Rp 94,24 TRILIUN RUPIAH

Article

ORANG ASLI PEGUNUNGAN PAPUA SEJAK DULU HIDUP BERMARTABAT, TERHORMAT, BERBUDAYA TINGGI DAN CINTA KEDAMAIAN

Article

Penguasa Indonesia dan aparat keamanan TNI-Polri berwatak dan berjiwa rasis dan fasis
Image

Article

OTONOMI KHUSUS PAPUA 2001 BUKAN BERKAT UNTUK ORANG ASLI PAPUA, TETAPI MENJADI MALAPETAKA & MESIN PEMUSNAHAN PENDUDUK ASLI PAPUA

Article

WEST PAPUA MERUPAKAN WILAYAH PASAR KEKERASAN MILITER DAN KEPOLISIAN INDONESIA

Article

PAPUA MERDEKA BERGEMA DI RUANG KKR DI LAPANGAN MANDALA JAYAPURA
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

SAYA TULIS APA YANG SAYA TAHU DEMI HARKAT DAN MARTABAT BANGSAKU RAS MELANESIA YANG SEDANG PUNAH DAN TANGGAPAN PARA PEMBACA