Home / Article

Tuesday, 7 September 2021 - 20:10 WIB

Selama 58 Tahun Sejak 1 Mei 1963 Indonesia Berhasil Melahirkan Enam Sikap Perlawanan Rakyat Papua

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Artikel

SELAMA 58 TAHUN SEJAK 1 MEI 1963 INDONESIA BERHASIL MELAHIRKAN ENAM SIKAP PERLAWANAN RAKYAT PAPUA

Oleh Gembala Dr. Socratez Yoman,MA

Sikap dan perilaku Negara yang diskriminasi rasialisme, fasisme, kolonialisme, militerisme, kapitalisme,  ketidakadilan, pelanggaran berat HAM dan sejarah penggabungan Papua dengan proses Pepera 1969 tidak demokratis yang dimenangkan militer telah melahirkan enam sikap yang khas bagi rakyat dan bangsa Papua Barat menghadapi penguasa kolonial Indonesia, yaitu:

1. Awareness (kesadaran).

Seluruh rakyat dan bangsa Papua Barat menyadari dan ada kebangkitan bahwa Indonesia adalah penguasa kolonial modern yang menduduki dan menjajah bangsa Papua Barat dengan moncong senjata sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang memasuki tahun 2021.

2. United (Persatuan).

Kesadaran dan kebangkitan adanya pendudukan dan kolonialisme Indonesia atas bangsa Papua, sehingga orang asli Papua melahirkan sikap persatuan dengan membentuk wadah perjuangan bersama, yaitu United Liberation Movement for West Papua ( ULMWP). ULMWP menjadi wadah politik resmi yang menjadi Obsever di MSG dan bersuara di forum-forum PIF, ACP dan forum internasional lainnya.

3. Distrust (Ketidakpercayaan).

Rakyat dan bangsa Papua telah kehilangan kepercayaan terhadap penguasa Indonesia. Kepercayaan terhadap Indonesia menjadi gundul atau botak. Sudah tidak ada cara lain untuk kembalikan kepercayaan rakyat kepada penguasa pemerintah Indonesia. Label teroris terhadap orang asli Papua bertambah luka membusuk dan bernanah dalam tubuh bangsa Indonesia dari kaca mata orang asli Papua. Otsus jilid 2 Nomor 2 Tahun 2021 bertambah runtuhnya kepercayaan rakyat dan bangsa Papua terhadap penguasa Indonesia.

4. Disobedience (Ketidakpatuhan).

Dari kedasaran, kebangkitan dan persatuan dan ketidakpercayaan itu melahirkan ketidakpatuhan kepada penguasa Indonesia dan berbagai undang-undang dan ideologi bangsa. Contohnya, pada 17 Agustus 2021, mayoritas orang asli Papua tidak kibarkan bendera merah putih di halaman rumah seperti tahun 1980-an sampai tahun 1990-an. Rakyat dan bangsa Papua menyadari bahwa bendera merah putih ialah lambang penjajahan. Alam juga turut tidak setuju dan itu terbukti di Manokwari dan di Jembatan Merah Jayapura. 

5. Rejection (Penolakan).

Sikap penolakan rakyat Papua terhadap Indonesia sudah dimulai sejak pelaksanaan Pepera 1969. Hampir mayoritas 95%  Orang Asli Papua menolak digabungkan dengan wilayah Indonesia dengan proses Pepera 1969 yang dimenangkan ABRI.

“…bahwa 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan Papua.”

(Sumber: Pertemuan Rahasia Duta Besar Amerika Serikat utk Indonesia dengan Anggota Tim PBB, Fernando Ortiz Sanz, pada Juni 1969: Summary of Jack W. Lydman’s report, July 18, 1969, in NAA).

Duta Besar RI, Sudjarwo Tjondronegoro mengakui: “Banyak orang Papua kemungkinan tidak setuju tinggal dengan Indonesia.” (Sumber: UNGA Official Records MM.ex 1, paragraf 126).

Dr. Fernando Ortiz Sanz melaporkan kepada Sidang Umum PBB pada 1969:

“Mayoritas orang Papua menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung pikiran mendirikan Negara Papua Merdeka.” (Sumber: UN Doc. Annex I, A/7723, paragraph 243, p.47).

Keterlibatan Militer Indonesia juga diakui oleh Sintong Panjaitan dalam bukunya: Perjalanan Seorang Prajurit Peran Komando:

“Seandainya kami (TNI) tidak melakukan operasi Tempur, Teritorial, Wibawa sebelum Pepera 1969, pelaksanaan Pepera di Irian Barat dapat dimenangkan oleh kelompok Papua Merdeka.” (2009:hal.169).

6. Resistance (Perlawanan).

Sikap perlawanan rakyat dan bangsa Papua terhadap pendudukan dan penjajahan Indonesia itu sejak tahun 1960-an. Perlawanan atau penolakan itu terbukti tidak pernah terhenti dan sampai memasuki tahun 2021 ini masih dan tetap dilakukan perlawanan terhadap Indonesia.

Yang menjadi tantangan terbesar bagi bangsa Indonesia saat ini, bahwa lahirnya atau terbentuknya ketidakpercayaan (distrust), ketidakpatuhan (disobedience), penolakan (rejection) dan perlawanan (resistance) terhadap Indonesia itu dilakukan oleh hampir 100% generasi muda Papua yang belajar dari dan dalam sistem pendidikan dari Tingkat Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi yang diselenggarakan Indonesia.

Penulis juga generasi yang nengeyam pendidikan Sekolah Dasar Negeri atau SD Inpres, SMP Negeri, SMA Negeri dan Universitas Negeri Cenderawasih, tapi saya tidak menjadi orang Indonesia, karena penulis belajar proses sejarah penggabungan Papua ke dalam wilayah Indonesia dengan moncong senjata, penuh darah dan air mata.

Yang dilawan oleh rakyat dan bangsa Papua ialah akar sejarah konflik, yaitu: diskriminasi rasial, fasisme, kolonialisme, militerisme, kapitalisme, pelanggaran berat HAM, ketidakadilan, dan sejarah Pepera 1969 yang cacat hukum dan moral.

Rakyat dan bangsa Papua juga menolak dan melawan hoax,  mitos-mitos, stigma, label diproduksi penguasa Indonesia, yaitu: separatis, makar, opm, kkb, dan teroris sebagai topeng atau tameng untuk menyembunyikan sejarah akar konflik Papua.

Sekarang Indonesia menghadapi tantangan berat, yaitu: kesadaran (awareness), persatuan (united) ketidakpercayaan (distrust),  ketidakpatuhan (disobedience), penolakan (rejection) dan perlawanan (resistance).

Selamat membaca. Doa dan harapan saya, artikel ini menjadi berkat bagi para pembaca.

Ita Wakhu Purom, Selasa, 7 September 2021

Penulis:

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).

3. Anggota: Konferensi Gereja-Gerejaā° Pasifik (PCC).

3. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

____

Share :

Baca Juga

Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

SAYA BUKAN BANGSA BUDAK (Dulu Saya Bangsa Merdeka/Berdaulat Penuh Di Negeri Sendiri, Kini Menjadi Bangsa Budak & Tertindas Bangsa Kolonial Moderen Indonesia)

Article

SEJARAH DAN LATAR BELAKANG LAHIRNYA UNDANG-UNDANG RI NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI KHUSUS (OTSUS) PAPUA
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

OTONOMI KHUSUS NOMOR 21 TAHUN 2001 BUKAN UNDANG-UNDANG KEUANGAN: PEMERINTAH INDONESIA JANGAN MENGUKUR MARTABAT ORANG ASLI PAPUA DENGAN NILAI UANG DAN JANGAN MENGABURKAN AKAR PERSOALAN PAPUA DENGAN PROMOSI NILAI UANG Rp 94,24 TRILIUN RUPIAH
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Article

STATUS QUO & QUO VADIS KEKUASAAN KOLONIALISME MODEREN INDONESIA DI PAPUA SELAMA 57 TAHUN SEJAK 1963

Article

Press Release: REJECT AND DO NOT TRUST THE INVESTIGATION TEAM FORMED BY THE STATE TO INVESTIGATE THE SHOOTING OF YEREMIAS ZANABANI IN HITADIPA ON 19 SEPTEMBER 2020 AS IT IS NOT INDEPENDENT

Article

TNI-POLRI MERUPAKAN AKAR/JANTUNG PERSOALAN KEKERASAN & KEJAHATAN KEMANUSIAAN DI PAPUA SEJAK 1 MEI 1963
pdt-socratez-sofyan-yoman

Article

Mari, Kita Bersatu Untuk Menolak Dikotomi Dan Adu Domba Atau Provokasi Orang Asli Papua: Papua Tetap Satu Sorong-Samarai
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Article

SAYA BANGSA BERDAULAT SEJAK NENEK MOYANG TETAPI SAYA BUKAN BANGSA BUDAK