Home / Preaching

Sunday, 31 October 2021 - 21:41 WIB

Sudah Waktunya Kekuatan Injil Bersuara Mendukung Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Teologi Injil Pembebasan (Silahkan berdebat)

SUDAH WAKTUNYA KEKUATAN  INJIL BERSUARA MENDUKUNG PERJUANGAN KEMERDEKAAN PAPUA BARAT

Oleh Gembala Dr. Socratez Yoman,MA

Awal ini, penulis mengutip pandangan teologi dari Pastor Bernandus Bofitwos Baru, OSA sebagai berikut:

“Gereja harus mampu melihat, merasakan, mengalami dan terlibat secara langsung ke dalam situasi umatnya, dan bersama mereka mencari jalan keluar atau solusi atas berbagai persoalan yang sedang mereka hadapi. Para pemimpin Gereja dan tokoh-tokohnya harus berinisiatif mengambil peran terdepan guna mencari solusi atas persoalan-persoalan nyata yang dialami manusia pada zaman ini, khususnya di sekitar kita, tidak mengambil jarak, menghindar, atau lari dari kenyataan ini.”

Apakah ada hubungan Injil  dengan Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat? 

Jawabannya: Ada hubungan.

Kalau ada, dimana letak hubungan  Injil  dengan Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat? 

Menurut keyakinan iman penulis, bahwa  ada hubungan  Injil dengan Perjuangan Kemerdekaan Papua Barat.  Pandangan ini tentu dinilai ekstrim, berlawanan dan kekejutan bagi orang Kristen,  para pemimpin gereja, pendeta, gembala dan pastor. Karena, dari zaman ke zaman, dari abad ke abad, dari waktu ke waktu  diyakini bahwa misi Injil Yesus Kristus adalah persoalan surga, hidup kekal, suci, mulia, kudus dan tidak ada hubungan dengan persoalan politik yang kotor dan duniawi seperti perjuangan kemerdekaan Papua Barat.

Diperparah lagi dengan pengajaran di mimbar-mimbar gereja yang membuat jurang (gap) yang lebar dan besar antara Sorga dan Dunia. Dunia dibuat kesan seperti tempat yang kotor, tidak baik, rusak, dihuni oleh orang-orang dari berbagai latar belakang dan status sosial yang selalu berinteraksi antar satu sama lain dengan berbagai kepentingan mereka masing-masing. Pandangan dan keyakinan ini amat kontras dengan pernyataan Allah tentang dunia ciptaan-Nya.

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).

Selama ini, hampir sebagian besar orang-orang Indonesia, orang Kristen menilai bahwa perjuangan Kemerdekaan Papua Barat itu duniawi, berlawanan dengan iman Kristen, dan lebih parah lagi  bahwa mereka dianggap melawan penguasa pemerintah kolonial modern Indonesia yang menduduki dan menindas rakyat dan bangsa Papua Barat.

Tunggu dulu! Jangan terlalu terburu-buru menilai memvonis dan masuk dalam kerangka berpikir para penguasa kolonial modern Indonesia dan jangan terpenjara dengan mitos-mitos, stigma dan label : separatis, makar, opm, kkb, dan teroris.

Perlu dimengerti dan harus dipahami, bahwa rakyat dan bangsa Papua Barat berjuang untuk keadilan, perdamaian, martabat kemanusiaan, kebebasan, kesamaan derajat, hak-hak hidup, hak politik, hak atas ekonomi, pendidikan, kesehatan dan hak masa depan.

Orang Kristen meyakini dan mengimani, bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan umat manusia dan menyatakan kebenaran Allah. Injil adalah kabar baik dan sukacita tentang kelahiran Yesus, kematian Yesus dan kebangkitan Yesus (Roma 1:16-27; 1:1-). Injil tentang kelahiran Yesus, kematian Yesus, kebangkitan Yesus adalah jantung, pusat, inti dan pokok iman orang-orang Kristen.

Ada dua misi Allah yang holistik dalam kelahiran Yesus, kematian Yesus dan kebangkitan Yesus, yaitu misi Ilahi dan misi Realitas/Jasmani.

  1. Misi Ilahi

Melalui kelahiran Yesus, kematian Yesus, dan kebangkitan Yesus dapat membebaskan manusia dari belenggu kuasa Iblis dan dosa dan manusia didamaikan dengan Allah dan didamaikan dengan manusia. Manusia diberikan kepastian jaminan pengharapan hidup kekal di dalam dan melalui Yesus Kristus.

Seperti Rasul Paulus tegaskan:

“Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

  1. Misi Realitas/Jasmani

Dengan kekuatan Injil, yaitu melalui kelahiran Yesus, kematian Yesus dan kebangkitan Yesus manusia yang tertindas dan yang hidup dalam kegelapan kuasa kolonial modern Indonesia  dapat dibebaskan, dimerdekakan, didamaikan kembali sebagai bangsa berdaulat dan hidup setara di hadapan Allah, dan bangsa-bangsa berdaulat di dunia dan  diberikan kepastian jaminan pengharapan kehidupan yang layak bagi rakyat dan bangsa Papua Barat. Sekarang kita semua,  rakyat Indonesia dan rakyat Papua tidak berada lagi sebagai manusia tertindas, manusia tertawan, manusia dalam penjara kegelapan kekuasaan bangsa kolonial modern Indonesia.

Yesus Kristus berkata: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan kebebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Dalam konteks dan situasi umat Tuhan di Tanah Papua Barat dari Sorong-Merauke sejak 1 Mei 1963 sampai tahun 2021 saat ini, kekuatan Injil harus membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang menindas

Hari ini, 28 Oktober 2021, seluruh warga Baptis West Papua dengan gembira, sukacita besar dan dengan bangga memuji dan memuliakan Tuhan atas dinyatakannya Injil tentang kelahiran Yesus, kematian Yesus dan kebangkitan Yesus kepada suku Lani, orang Papua, orang Melanesia pada 28 Oktober 1956 yang ke-65 tahun.

BACA JUGA  Peranan Perempuan Dalam Melaksanakan Misi Kerajaan Allah Di Dalam Dunia Realitas

Saudara-saudara,  65 tahun Gereja Baptis adalah bukan waktu yang singkat. Keberadaan Gereja Baptis sudah lebih dari enam dekade di Tanah ini, di Negeri ini, di Tanah orang Papua, di Tanah orang Melanesia, yaitu 65 tahun, maka selama 65 tahun juga Injil yang membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang ditindas itu diberitakan dan digemakan di mimbar-mimbar Baptis.

Para pemimpin Baptis yang dipilih, dikuduskan, diurapi dan ditetapkan TUHAN Yesus Kristus dengan kokoh, kuat dan kuasa Roh Kudus selama 65 tahun,  mereka terus-menerus sampaikan bahwa  Injil adalah kabar baik. Injil adalah kabar gembira. Injil adalah kabar keselamatan. Injil adalah kabar damai sejahtera. Injil adalah kabar pemberi kepastian jaminan pengharapan hidup kekal. Injil adalah kabar sukacita. Injil adalah kabar bahagia. Injil kabar yang menyatakan kebenaran Allah.

Tetapi, selama 65 tahun pemberitaan Injil  yang membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang menindas, selama 65 tahun itu juga umat Tuhan, orang asli Papua, pemilik Negeri dan Tanah ini, diduduki, ditindas, dijajah, dilumpuhkan, dimiskinkan, disingkirkan, dibuat tidak berdaya, dimusnahkan, dibantai seperti hewan dan binatang buruan, seluruh buku-buku tentang identitas bangsa Papua dibakar dan dimusnahkan, Tanah tanah dirampas/dirampok, hutan rampok, emas dirampok oleh penguasa asing kolonial modern Indonesia sejak 1 Mei 1963.

Selama pemberitaan Injil 65 tahun, umat Baptis dan seluruh orang asli Papua ditindas dengan mitos-mitos, stigma, label yang diproduksi oleh para penguasa kolonial modern Indonesia sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang kita berada dalam tahun 2021 di era modern dan globalisasi.

Para penindas kolonial modern Indonesia menyebut orang asli Papua, pemilik tanah ini, orang-orang terbelakang, tertinggal, termiskin, belum mampu, belum bisa, kelompok gerakan pengacau keamanan (GPK), kelompok gerakan pengacau (GPL).

Di depan mata Injil yang diberitakan selama 65 tahun oleh orang-orang Baptis dan orang Kristen untuk membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang menindas, para penindas kolonial modern Indonesia secara aktif dan terus-menerus memproduksi, memelihara, merawat dan menggunakan mitos, label, stigma yang lebih kejam, biadab, tidak beradab, tidak manusiawi, tidak adil, yaitu:
Orang Asli Papua dilabel sebagai separatis, OPM, makar, KKB, monyet dan teroris.

Injil sudah dinyatakan sejak 5 Februari 1855  dan sudah mencapai 166 tahun, tapi, kolonialisme, militerisme, rasisme, kapitalisme, fasisme, ketidakadilan, pelanggaran HAM berat, pemusnahan etnis penduduk asli Papua secara sistimatis, terstruktur, masif dan kolektif dilaksanakan oleh para penindas kolonial modern Indonesia dengan mempertahankan sejarah penggabungan Papua Barat ke dalam wilayanya orang Indonesia yang berwatak teroris, rasis, fasis yang berkultur militer melalui Pepera 1969 yang penuh darah dan air mata yang dimenangkan militer dengan moncong senjata dan juga cacat moral dan hukum yang melawan hukum internasional dan juga melawan hati nurani orang asli Papua.

Di depan Injil yang sudah diberitakan selama 166 tahun dan lebih khusus dalam tubuh warga Baptis West Papua selama 65 tahun, para perampok, pencuri, penipu, pembohong, penjahat, pembunuh, tukang janji kosong yang dikenal luas atau lebih populer, bangsa kolonial modern Indonesia menduduki dan menindas orang asli Papua.

Di depan orang-orang yang percaya dan memberitakan Injil, kekerasan negara melalui kekuatan militer berlangsung di Nduga, di Intan Jaya, di Puncak, di Yahukimo, di Maybrat, di Pegunungan Bintang.

Ada generasi penerus bangsa Papua, penerus gereja Tuhan, penerus keluarga yang tewas ditembak tentara kolonial asing Indonesia, di kota Sugapa Intan Jaya pada hari Rabu, 26 Oktober 2021 pada jam 9 malam. Anak-anak yang tewas, yaitu: NOPELINUS SONDEGAU, usia 2 tahun, leluru kena di perut dan tali perut keluar dan YOHAKIM MAJAU umur 6 tahun masih hidup.

Sebelumnya ada 4 siswa yang tewas ditembak TNI di Paniai pada 8 Desember 2014 dan para pelakunya bebas dan tidak pernah disentuh hukum. Dan masih banyak umat Tuhan yang dibantai seperti hewan dan binatang buruan.

Dalam realitas dan dinamika kehidupan orang asli Papua  seperti ini, pertanyaannya ialah dimana pengaruh Injil  kekuatan Allah, Injil yang menyelamatkan, Injil yang menyatakan kebenaran Allah, Injil kabar baik, Injil kabar gembira, Injil kabar keselamatan, Injil kabar damai sejahtera, Injil  kabar pemberi kepastian jaminan pengharapan hidup kekal, Injil kabar sukacita, Injil kabar bahagia, Injil kabar yang mendamaikan Allah dengan manusia dan mendamaikan manusia dengan manusia?

Fakta sejarah pemberitaan Injil  yang membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang menindas membuktikan bahwa para penginjil dan misionaris asing terbangkan pesawat MAF dan Helikopter untuk menyelamatkan orang asli Papua dengan Injil adalah kekuatan Allah. Satu contoh dari banyak contoh yang lain:

Pilot Albert Lewis berkembangsaan Amerika sebelum menerbangkan pesawat untuk pertama kali ke Lembah Balim untuk suku Hubula, suka Yali dan suku Lani, ia menyatakan iman kepada Injil sebagai berikut:

BACA JUGA  REFLEKSI: HARI INJIL KE-165 DI TANAH PAPUA PADA 5 FEBRUARI 2020

“Saya tidak tahu harganya yang harus dibayar untuk memasuki lembah Balim, tetapi saya bersedia membayar harga itu.”

Pilot Albert Lewis menerbangkan pesawat tujuan Lembah Balim dan mendarat dengan selamat pada 20 April 1954.  Akhirnya, pada 28 April 1955 Albert Lewis mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan dari Sentani menuju Lembah Balim. Ia menabrak sebuah gunung yang tinggi di sebelah utara Sekan dari Lembah Balim.

Para misionaris asing terbangkan pesawat dan rela mati untuk selamatkan orang asli Papua, tetapi penguasa kolonial Indonesia terbangkan pesawat dan helikopter untuk menembak mati orang asli Papua untuk kepentingan NKRI dan kepentingan merampok atau mencuri sumber daya alam di Papua.

Kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa kolonial modern Indonesia, karena mereka telah kehilangan sebagian besar dari kemamusiaan mereka dan mereka telah menjadi sama seperti orang-orang yang berwatak binatang dan hewan. Karena itu, kita menolong kembalikan kemanusiaan mereka dengan Injil adalah kekuatan Allah.

Saudara-saudara, orang-orang benar, kudus dan beriman, warga Baptis dan warga Papua, kita semua melihat, menyaksikan dan merasakan, mengalami, dari waktu ke waktu, sejak 1 Mei 1963 sampai saat ini ada
kolonialisme, militerisme, rasisme, kapitalisme, fasisme, ketidakadilan, pelanggaran HAM berat, pemusnahan etnis penduduk asli Papua secara sistimatis, terstruktur, masif dan kolektif dilaksanakan oleh para penindas kolonial modern Indonesia dengan mempertahankan sejarah penggabungan Papua Barat ke dalam wilayanya orang Indonesia yang dengan cara yang curang  melalui Pepera 1969 yang penuh darah dan air mata yang dimenangkan militer dengan moncong senjata dan juga cacat moral dan hukum yang melawan hukum internasional dan juga melawan hati nurani orang asli Papua.

Maka, perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat untuk merdeka dan berdaulat penuh melalui wadah politik resmi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP)  yang didukung dari kekuatan TPN-PN dan KNPB harus didukung dengan terang Injil untuk menolong dan membebaskan mereka yang tertindas dan mereka yang menindas.

Karena TUHAN Yesus Kristus, Alkitab Firman Allah yang hidup dan berkuasa, Gereja Baptis, Dewan Gereja Papua (WPCC) tidak melarang Papua Barat Merdeka. Yang dilarang TUHAN Yesus Kristus, Alkitab, Gereja Baptis, Dewan Gereja Papua (WPCC) ialah jangan membunuh dan jangan mencuri (Keluaran 20:13, 15).

Injil bukan teori. Injil bukan khotbah. Injil bukan berada di gedung-gedung ibadah yang mewah dan megah. Injil tidak berada di ruang ber-AC. Injil tidak duduk manis di kursi-kursi sofa.

Injil berada dan hadir dalam dunia realitas, di berbagai tempat, di berbagai golongan manusia dari tingkat umat tertindas, miskin, tak berdaya, yang disingkirkan, yang dibaikan dan di kalangan orang-orang kaya sampai di level-level atas. Injil ada untuk semua umat manusia. Injil hadir dalam dunia realitas melalui kelahiran-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya tidak kompromi dengan kuasa Iblis dan kuasa dosa dan Injil tidak kompromi dengan ketidakadilan, kolonialisme, kapitalisme, militerisme, rasisme, fasisme, kejahatan kemanusiaan.

Prof Dr. Franz Magnis-Suseno memberikan kesimpuan yang tepat tentang keadaan umat Tuhan di Papua, terutama yang dialami orang asli Papua, sebagai berikut:

“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia. …Kita akan ditelangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.”

Sementara Pastor Frans Lieshout mengatakan: “Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.”

Karena keadaan orang asli Papua sudah seperti luka membusuk dan luka bernanah, maka kekuatan Injil menjadi kebutuhan utama, penting dan mendesak untuk menyembuhkan dan memulihkan, karena Injillah yang membebaskan, memerdekakan, mendamaikan, memberikan harapan hidup kekal mereka yang tertindas dan mereka yang menindas. Injil mengangkat martabat kemanusiaan laki-laki dan perempuan dan Injil membuat manusia mempunyai kesamaan derajat dan Injil tidak membeda-bedakan suku, ras, etnis, dan latar belakang, karena manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah dengan kekuatan Injil itu sendiri (Kejadian 1:26).

Kita mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat dan bangsa Papua Barat berarti kita turut berperan aktif melaksanakan amanat Firman yang kekal, yaitu kita menghadirkan Kerajaan Sorga dalam dunia realitas. “…daranglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:10-11).

Doa dan harapan saya, tulisan ini membuka wawasan para pembaca. Selamat mengecap dan menikmati tulisan ini.

Ita Wakhu Purom, Minggu, 31 Oktober 2021

Gembala Dr. Socratez Yoman,MA

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP)
  2. Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC).
  4. Aliansi Baptis Dunia (BWA).

Share :

Baca Juga

SEKOLAH SEMINARI BAPTIS PAPUA

Preaching

KEBENARAN TIDAK PERLU DIBELA, KEBENARAN MEMBELA DIRINYA SENDIRI
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Preaching

KAMI BUKAN KKB, SEPARATIS, MAKAR. KAMI MANUSIA PUNYA MARTABAT DAN PEMILIK TANAH MELANESIA
(PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN)

Preaching

PERDANA MENTERI VANUATU MR.BOB LOUGHMAN MENJADI MATA DAN LIDAH TUHAN & BERHAK MEMBELA NASIB KELUARGA MELANESIA DI WEST PAPUA DALAM FORUM PBB, PIF DAN ACP
SEKOLAH SEMINARI BAPTIS PAPUA

Preaching

TEMA: JANGAN TAKUT DAN GENTAR MELAWAN HUKUMAN RASISME
pdt-socratez-sofyan-yoman

Preaching

Yesus Kristus Adalah Raja, Guru, Dan Gembala Separatis Sejati

Preaching

KHOTBAH PEMBERKATAN NIKAH GEREJA BAPTIS ITA WAKHU PUROM
IMAGE

Preaching

TEMA: JANGAN MEMBUNUH DAN MENCURI (Keluaran 20:13,15).
Dr. Yoman

Preaching

KHOTBAH DENGAN TEMA: APAKAH GEREJA DITUTUP KARENA VIRUS CORONA/COVID 19 ?