Home / Opinion / Reality/Fact

Sunday, 11 July 2021 - 20:18 WIB

Topeng-Topeng Rasisme, Kolonialisme, Militerisme, Kapitalisme Penguasa Kolonial Modern Indonesia Di Papua Barat

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua. Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Fakta Topeng-Topeng Kolonialisme

TOPENG-TOPENG RASISME,  KOLONIALISME, MILITERISME, KAPITALISME PENGUASA KOLONIAL MODERN INDONESIA DI PAPUA BARAT

(Separatisme, Makar, OPM, KKB (Kaka Besar), Teroris Bukan Akar Konflik Papua)

Oleh Gembala Dr. Socratez S.Yoman,MA

Bangsa Melayu, Indonesia, lebih khusus orang Jawa mempunyai 7 topeng yang menggambarkan atau mencerminkan watak, perilaku dan kepribadian setiap orang.Ketujuh topeng yang dimaksud sebagai beikut:

1. Topeng Panji

Topeng Panji menggambarkan bayi yang baru lahir di bumi dari kalangan elit bangsawan dan mencerminkan kewibawaan dan ketenangan. Panji ini berhubungan dengan penyerahan diri kepada Tuhan, dan kehidupan yang berbudi luhur. Dan juga berkedudukan terhormat dan watak yang kokoh dalam keyakinannya karena Tuhan menjadi pijakan atau pedoman dalam hidup dan karyanya.

2. Topeng Runawa

Topeng Runawa menggambarkan jati diri manusia yang bejat moral yang dikuasai keinginan daging, serakah dan  ada kemurkaan, selalu salah arah, tersesat dan tidak pernah berhasil dalam setiap usaha atau gagal.

3. Topeng Kelana

Topeng Kelana mencerminkan seseorang yang suka menggembara dan berkelana untuk mencari jati dirinya dan berwatak angkuh dan kejam.

4. Topeng Rumyang

Topeng Rumyang menggambarkan orang yang selalu mengutamakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, melakukan perintah Tuhan dan menjauhi dari perbuatan yang jahat. Ia selalu hidup benar, sabar, lemah lembut dan ia percaya ada surga dan neraka.

5. Topeng Samba

Topeng Samba menggambarkan seseorang yang menjaga diri dengan menjauhkan diri dari berbagai godaan dan tawaran yang jahat.

6. Topeng Tumenggung

Topeng Tumenggung mencerminkan pemimpin yang mengayomi, menjaga, membimbing dan melindugi rakyat dengan adil, jujur, penuh dengan kasih sayang dan tegas. Orang-orang dan rakyat yang didekatnya merasa nyaman, sejahtera, aman, damai dan tentram serta merasa terlindung.

7. Topeng Pamindo

Topeng Pamindo memperlihatkan seseorang yang tidak percaya diri, setia kawan, memproses menuju kedewasaan dan mengenal dunia, sifatnya terburu-buru, dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

BACA JUGA  Sekitar 12 tahun yang lalu, penulis menulis  buku yang berjudul: OPM ? (Otonomi, Pemekaran dan Merdeka)

Penguasa kolonial modern Indonesia memproduksi mitos, stigma, label terhadap Orang Asli Papua (OAP)

Topeng Panji, Topeng Kelana, Topeng Runawa, Topeng Rumyang, Topeng Samba,  Topeng Tumenggung, Topeng Pamindo, juga disetarakan dengan Wayang Jawa. Tokoh utama atau Pelakon Wayang yang menggerakkan Wayang itu  tidak pernah tampil. Tokoh utama itu selalu berlindung dibalik layar Wayang.

Penguasa kolonial modern Indonesia yang menduduki, menjajah dan menindas rakyat dan bangsa Papua  Barat sejak 1 Mei 1963 dengan cerdik dan licik menyembunyikan Rasisme, Kapitalisme, Militerisme, Kolonialisme dengan memproduksi mitos, stigma, dan label: separatis, anggota OPM, makar, KKB (Kaka Besar), dan teroris.

Jadi, di Jawa  ada Topeng Panji, Topeng Kelana, Topeng Runawa, Topeng Rumyang, Topeng Samba,  Topeng Tumenggung, Topeng Pamindo, dan Wayang Jawa yang selalu menyembunyikan Tokoh utama atau Pelakonnya.

Sementara di Papua Barat, penguasa kolonial modern Indonesia memproduksi Topeng Separatis, Topeng OPM, Topeng Makar, Topeng KKB (Kaka Besar), Topeng Teroris.

Penguasa kolonial modern Indonesia sejak 1 Mei 1963 membohongi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia  dengan menyembunyikan tentang akar konflik Papua sesungguhnya. Opini publik Indonesia dari tahun ke tahun diarahkan ke Topeng Separatis, Topeng Makar, Topeng OPM, Topeng KKB (Kaka Besar), Topeng Teroris untuk mengalihkan atau menyembunyikan akar konflik  tragedi kemanusiaan atau pokok persoalan  Papua yang sebenarnya, yaitu: RASISME, KAPITALISME, MILITERISME, KOLONIALISME.

Penguasa kolonial modern Indonesia memelihara, merawat dan menyuburkan Topeng Separatis, Topeng Makar, Topeng OPM, Topeng KKB (Kaka Besar), Topeng Teroris dengan kekuatan moncong senjata atau Militerisme untuk memagari, mengawasi, menyembunyikan RASISME, KAPITALISME Dan KOLONIALISME sebagai akar konflik kekerasan Negara yang melahirkan pelanggaran berat HAM sejak 1 Mei 1963 sampai sekarang ini.

Mayoritas rakyat dan bangsa Indonesia sudah terjebak dan terbiasa serta ikut-ikutan penguasa kolonial Indonesia menghakimi dan  mempersalahkan Orang Asli Papua  (OAP) dengan menggunakan kaca mata penguasa, yaitu, Topeng Separatis, Topeng Makar, Topeng OPM, Topeng KKB (Kaka Besar), Topeng Teroris.

BACA JUGA  Beberapa Orang Asli Papua Hidup Dalam Kesadaran Palsu Dan Kelumpuhan Daya Kritis Untuk Menerobos Jantung Atau Rahasia Dalam Setiap Pergerakan Bangsa Kolonial Modern Indonesia

Para penguasa kolonial modern Indonesia diharapkan tidak selamanya bersembunyi dibalik wayang atau topeng separatisme, topeng makar, topeng OPM, topeng KKB (Kaka Besar), topeng teroris. Topeng-topeng atau tameng seperti ini harus dibuang karena sudah usang dan primitif serta sudah tidak  relevan lagi sesuai dengan era globalisasi dan teknologi dewasa ini.

Rakyat dan bangsa Papua harus sadar, bangkit, bersatu dan melawan Topeng-Topeng Separatis, Makar, OPM, KKB (Kaka Besar) dan Teroris. Kita harus mengkampanyekan bahwa RASISME, MILITERISME, KAPITALISME, DAN KOLONIALISME sebagai akar konflik Papua yang menyebabkan kekerasan Negara yang melahirkan pelanggaran berat HAM.

Jadi, solusi  relevan dan realistis untuk menyelesaikan akar konflik Papua, yaitu Rasisme, Militerisme, Kapitalisme dan Kolonialisme ialah Pemerintah RI- ULMWP duduk setara di meja perundingan yang dimediasi pihak ketiga yang netral.

Perundingan damai dan setara ini untuk penyelesaian akar konflik Papua, seperti luka membusuk dan bernanah di tubuh bangsa Indonesia adalah 4 pokok akar konflik yang dirumuskan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008). Empat akar konflik Papua, yaitu:

1) Sejarah dan status politik pengintegrasian Papua ke dalam wilayah Indonesia;

(2) Kekerasan Negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1963 yang belum ada penyelesaian;

(3) Diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di Tanah sendiri;

(4) Kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.

Doa dan harapan penulis, para pembaca mendapat pencerahan.  Waa…Waa….

Ita Wakhu Purom, Sabtu,  10 Juli  2021

Penulis:

1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua;

2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua Barat (WPCC)

3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)

4. Anggota Aliansi Baptis Dunia (BWA)

Share :

Baca Juga

Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Reality/Fact

POLITICS OF DIVIDE AND CONQUER AND SEPARATION OF THE INTEGRITY OF INDIGENOUS PAPUANS WITH THE IRRATIONAL & UNREALISTIC CREATION OF NEW PROVINCES IN PAPUA DUE TO THE FACT THAT THE TOTAL POPULATION OF THE PROVINCE OF PAPUA AND WEST PAPUA IS ONLY 4,392,024 PEOPLE

Reality/Fact

Usulan Provinsi Tapanuli Yang Diabaikan 42 Tahun Dan 7 Provinsi Boneka Indonesia Di Tanah Papua Tanpa Diusulkan Rakyat Papua
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA

Papua

Rasisme, Kapitalisme, Militerisme Merupakan Akar Konflik Dan Mesin Kekerasan Kolonialisme Indonesia Di Papua Sejak 1 Mei 1963

Reality/Fact

Dewan Gereja Papua dan Pastor Pribumi menanggapi Pa Peter Prove bicara Pelanggaran HAM di Papua bukan Ruang Kosong
pdt-socratez-sofyan-yoman

Article

Ralat/koreksi: Dalam artikel ini ada ĺKutipan pandangan Theo van den Broek: yang benar dan seharusnya”….Dan, hal ini BUKAN berita baik bagi Papua.”
Marinus Yaung

Opinion

ISU RASIALISME DAN ISU HAM PAPUA : DUA INSTRUMEN DIPLOMASI PAPUA MERDEKA
Foto Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Reality/Fact

PANDANGAN RASISME PARA JENDRAL DAN SIPIL DI INDONESIA: JENDRAL ALI MURTOPO, JENDRAL M.H. HENDROPRIYONO, JENDRAL BINSAR LUHUT PANJAITAN DAN AMBRONCIUS I.M. NABABAN
INDONESIA MENGHADAPI TANTANGAN

Reality/Fact

Indonesia Menghadapi Tantangan Solidaritas Kemanusiaan Dari ULMWP-MSG-PIF-ACP-MEDIA ASING- Rakyat Indonesia- Rakyat Papua, Dewan Gereja Papua, 57 Pastor Pribumi Papua & Masih Banyak Lagi